sambutan

selamat datang sahabat.....

Senin, 13 September 2021

Desa Ludai

 

Keseruan perjalanan menuju Desa Ludai dan Kampung Tua Pangkalan Kapas, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau, dimulai sejak persiapan. Dimulai dengan pendataan peserta yang akan ikut harus dalam kondisi sehat, kemampuan tim menghadapi tantangan, sampai persiapan perlengkapan perjalanan. Setelah analisis kondisi peserta dan kondisi perjalanan, akhirnya kami memutuskan melewati jalur sungai.


Saya telah pernah mencapai Desa Lubuk Bigau, Kec. Kampar Kiri Hulu dengan menggunakan jalur darat. Perjalanan ke Lubuk Bigau dapat dibaca pada  link . Melewati jalur sungai bagiku merupakan tantangan tersendiri, karena saya tidak mampu berenang. Saya segera membeli pelampung secara online. Berbelanja secara online memang menghemat waktu, apalagi belanja barang-barang yang bukan kebutuhan sehari-hari, serta semenjak pandemi Covid-19 berlangsung saya berusaha menghindari tempat keramaian bila memungkinkan. Melewati jalur sungai juga perlu mempertimbangkan berat penumpang dan barang yang dibawa di atas sampan, untuk menjaga keselamatan dalam perjalanan. Berdasarkan analisis peserta dan beban sampan serta debit air sungai, diputuskan menggunakan 4 sampan dengan 1 sampan memuat 4 orang ditambah barang-barang.  

Perjalanan menuju Desa Ludai dari Desa Gema, Kampar Kiri Hulu, ditempuh dalam waktu yang cukup lama, yaitu 2,5 jam. Bila debit air sungai lebih banyak, maka perjalanan dapat ditempuh dalam waktu 2 jam, sedangkan bila debit air lebih sedikit lagi maka perjalanan dapat ditempuh dalam waktu 3 jam. Perjalanan menuju Desa Ludai berlawanan dengan arah arus sungai. Selain melengkapi diri dengan pelampung, saya juga menggunakan topi lebar untuk menghindari terik matahari. Wisata Sungai Subayang memiliki pesona yang luar biasa. Sungai dangkal berbatu dengan arus deras di sebagian besar perjalanan. Batu-batu alam di pinggir sungai terlihat seperti ukiran di beberapa lokasi. Saat arus deras terkadang timbul rasa gamang. Namun saya memilih menikmati keindahan alam pemberian Allah, dibandingkan dengan membiarkan diri terjebak dalam ketakutan. Dalam perjalanan, sampan harus diisi ulang bahan bakarnya karena jarak yang ditempuh cukup jauh. 




Ludai merupakan salah satu desa di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau. Desa Ludai merupakan salah satu desa tertua di wilayah Kampar dan sudah ada sejak zaman Belanda. Nama Desa Ludai diambil dari sejarah adanya pohon kayu yang bernama kayu Kelidai yang tumbuh di tengah-tengah pohon beringin besar yang sudah ada sebelum desa ini ditemukan. Daerah dengan alat transportasi sungai memiliki masalah berbeda dibandingkan dengan transportasi darat. Mencapai Desa Ludai dengan transportasi darat sangat sulit dilakukan karena belum tersedianya sarana jalan yang telah diaspal. Jalan tanah yang dilewati di areal perbukitan tentu memiliki tantangan yang luar biasa.

Pada sore hari kami menikmati waktu dengan pemandangan sungai. Sarana Mandi Cuci Kakus belum tersedia di semua rumah warga. Sebagian besar masih melakukan aktifitas mencuci sampai mandi di sungai. Teman-teman laki-laki memutuskan berenang ke sungai. Suasana yang jarang dinikmati. Teman yang tidak bisa berenang membekali diri dengan pelampung walaupun mandi di tempat yang dangkal.

Di sungai terdapat bermacam-macam ikan sungai. Selain ikan yang bisa dikosumsi, juga terdapat ikan yang lumayan ganas seperti ikan buntal. Ikan buntal sungai tidak beracun, namun gigitannya dapat mencederai kita. Salah seorang teman yang mencoba berenang ke tempat yang agak dalam, diserang oleh ikan buntal. Sehingga timbul luka yang cukup dalam. Karena darah tidak berhenti setelah hampir 30 menit dibalut tekan, maka akhirnya dilakukan penjahitan luka.

Saat pagi menjelang, setelah mandi di rumah tempat menginap, maka saya segera menuju tepi sungai untuk menunggu matahari terbit. Namun suasana agak mendung sehingga saya tidak mendapatkan suasana matahari terbit. Meskipun begitu saya masih mendapatkan suasana pagi yang menyenangkan di pinggir sungai. Menyaksikan awan beranjak meninggalkan perbukitan.




Sore harinya kami diajak Kepala Desa menangkap ikan di lubuk larangan dan membakar ikan hasil tangkapan disana. Lubuk larangan berada di Dusun II, sedangkan kami berada di Dusun I. Kami berangkat dengan menggunakan 3 sampan. Perjalanan yang menyenangkan. Di lubuk larangan, teman-teman memancing dengan alat pancing yang telah disediakan, sedangkan 2 orang warga setempat membantu menjaring ikan dengan sampan.





Ikan hasil pancing langsung dibakar di pinggir sungai dengan api unggun yang telah dibuat. Rasanya nikmat. Kemudian kami bersiap untuk membakar ikan hasil jaring dengan sampan.




Perlahan hujan mulai turun, semakin lama semakin deras. Kami pun berlari berteduh menuju rumah Kepala Dusun. Karena hari telah senja, untuk menghindari gelap, maka kami segera berangkat pulang dengan 2 sampan, sedangkan Kepala Desa akan pulang dengan sepeda motor. Ikan hasil tangkapan juga dibawa di atas sampan. Direncanakan diolah di rumah saja.

Sampan yang kami tumpangi memuat saya dan 4 teman ditambah pengemudi sampan serta putri kecilnya yang berusia 5 tahun. Dalam perjalanan, mesin sampan mati mendadak karena terkena air hujan. Hal itu terjadi berulang kali. Sampan lainnya yang berangkat setelah kami akhirnya mendahului kami. Walaupun jarak yang ditempuh sebenarnya tidak terlalu jauh, namun karena berada di tengah sungai dalam hujan dan mulai gelap serta mesin sampan sulit untuk hidup, situasi ini jelas menimbulkan kepanikan bagi kami. Tidak ada diantara kami yang berpengalaman mendayung sampan selain pengemudi. Akhirnya pengemudi sampan meminta kami untuk turun dan berjalan dalam sungai sementara dia mendorong sampan ke tempat yang lebih dalam.

Situasi ini jelas sangat buruk buatku karena saya tidak tahan dingin, phobia gelap dan tidak bisa berenang. Alhamdulillah sebelum berangkat ke lubuk larangan, salah seorang warga mengingatkanku untuk membawa pelampung. Di dalam tas kecilku telah kusediakan senter pena yang biasa kugunakan untuk memeriksa pasien. Situasi teman lain juga tidak menyenangkan, ada yang tidak bisa berenang namun tidak bawa pelampung, ada yang bisa berenang tapi kakinya luka digigit ikan buntal, ada yang tidak bisa berenang dan kondisi fisik kurang fit walaupun memakai pelampung. Teman yang kurang fit mulai panik dan agak sesak nafas. Kami saling menguatkan dan saling menenangkan, mencegah dikuasai kepanikan. Kami berpegangan tangan saling menguatkan agar terhindar dari tergelincir dan dibawa arus sungai. Alhamdulillah seluruhnya berhasil menenangkan diri dan melangkah perlahan melanjutkan perjalanan. Kami tidak bisa mengabari teman di darat atas situasi yang kami hadapi, karena wilayah ini tidak terdapat signal telepon. Mereka pasti kuatir karena kami tidak sampai ke rumah setelah lebih dari setengah jam. Teman-teman di sampan kami tidak ada yang membawa radio HT. Persiapan radio HT ini yang luput dariku. Teman di sampan lain ada 2 orang yang membawa radio HT. Namun karena lubuk larangan ini tempatnya tidak jauh, maka kami kurang bersiap menghadapi kesulitan yang tiba-tiba terjadi.

Kami berjalan pelan-pelan dengan bantuan senter. Salah satu teman mendengar panggilan suara namun kami tidak melihat orang yang memanggil. Kami mencegahnya mendekati sumber suara sampai kami dapat melihat orang yang memanggil. Kami harus berhati-hati merespon situasi. Ternyata pengemudi sampan meminta kami mendekati dan menaiki sampan. Ketika sampai di sampan dan berusaha untuk naik, kakiku telah kram karena dingin. Aku duduk di pinggir sampan dan melemparkan kakiku ke atas sampan. Nyeri terasa menjalari kaki. Aku memijat kaki untuk mengurangi kram. Kemudian mesin sampan berhasil hidup dan kami melanjutkan perjalanan dengan bantuan senter untuk melihat pinggir sungai dan arah. Alhamdulillah akhirnya kami melihat cahaya listrik dari perkampungan. Ketika mesin mati lagi, kami telah dekat pulau  pasir dekat perkampungan, kami berjalan menyeberangi sungai dan menuju tempat menginap. Saat kami sampai di daratan, kami melihat sampan melaju mencari kami.

Sampai di penginapan, teman-teman heboh, mereka panik membayangkan 5 orang temannya hilang dibawa arus. Mereka berupaya mencari orang untuk menjemput kami. Alhamdulillah semuanya selamat. Malam itu kami berbagi cerita. Ternyata perjalanan ke Desa Pangkalan Kapas juga heboh dengan kejadian terbaliknya salah satu sampan peserta. Mereka menikmati rekreasi ke air terjun setelah pelaksanaan kegiatan disana. Alhamdulillah seluruh peserta selamat, tidak terjadi hal-hal yang mengkuatirkan.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar