sambutan

selamat datang sahabat.....

Jumat, 20 Mei 2016

Solidkah Tim Kita?



Pertanyaan ini merupakan pertanyaan penting saat ada target yang ingin dicapai, terutama target yang besar. Terakreditasinya rumah sakit seperti ketentuan dalam Undang-Undang nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit merupakan target besar yang harus dicapai. Kenapa dikatakan target besar? Karena melibatkan seluruh tim rumah sakit tanpa terkecuali.


Menurut Undang-Undang nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, dalam upaya peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit wajib dilakukan akreditasi secara berkala minimal 3 (tiga) tahun sekali. Akreditasi Rumah Sakit dilakukan oleh suatu lembaga independen baik dari dalam maupun dari luar negeri berdasarkan standar akreditasi yang berlaku.(1) Lembaga independen dalam negeri yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 417/MENKES/PER/II/2011 adalah Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) yang berkedudukan di Jakarta. (2)

Peraturan Menteri Kesehatan nomor 012 tahun 2012 tentang Akreditasi Rumah Sakit menjelaskan tujuan akreditasi adalah: (3)
1.   Meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit;
2.   Meningkatkan keselamatan pasien Rumah Sakit;
3.  Meningkatkan perlindungan bagi pasien, masyarakat, sumber daya manusia Rumah Sakit dan Rumah Sakit sebagai institusi; dan
4.   Mendukung program Pemerintah di bidang kesehatan.

Pencapaian tujuan akreditasi seperti tersebut di atas tentu harus dilakukan oleh seluruh tim yang bekerja di Rumah Sakit secara bersama-sama. Karena harus dilakukan oleh seluruh anggota tim, maka menjadi penting pertanyaan: Solidkah Tim Kita?

Tim terbentuk karena adanya pemimpin yang berperan sebagai koordinator tugas dan fungsi anggota kelompok, atau sering juga disebut mitra kerja. Tim kerja berkembang karena adanya kesamaan visi, tujuan, perilaku dan kadang juga gaya hidup. Semakin banyak persamaan karakteristik anggotanya, biasanya semakin kuat dan solid tim kerja tersebut. (4)

Inti tim kerja terdiri atas tiga Komponen penting, yaitu komitmen bersama, saling percaya, dan saling menhormati. Ketiga faktor utama inilah yang membuat sebuah tim kerja sangat kuat (powerfull), bila dibandingkan masing-masing anggota berkarya secara mandiri. Pepatah yang mengatakan “bersatu kita kuat, bercerai kita runtuh” merupakan nilai dasar pengembangan suatu tim kerja. Pada tim kerja yang ideal, kinerja setiap anggota merupakan jangkar bagi kinerja anggota tim lainnya, yang membuat kinerja tim menjadi prima dan dapat mewujudkan tujuannya. Tim kerja berbeda dari sekedar kelompok kerja tradisional. Pada tim kerja dituntut akuntabilitas, baik secara individual maupun kelompok. Inilah yang membuat tim kerja dapat tampil lebih baik dibandingkan satu orang yang paling baik sekalipun. (4)

Mengapa Kita Membutuhkan Tim Kerja?

Di dunia kerja modern, setiap pekerjaan dituntut semakin berkualitas. Hal ini berdampak terhadap tuntutan kinerja setiap profesional, agar semakin meningkatkan kerja sama untuk menghasilkan jasa maupun produksi yang bermutu. Agar dapat menjadi pemenang dalam dunia yang semakin kompetitif ini, organisasi harus mampu menggabungkan segenap potensi pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan visi anggotannya untuk bekerja dalam tim. Hanya dengan cara inilah organisasi akan mampu mengatasi dan menyelesaikan aneka tantangan dan masalah yang dihadapi dunia bisnis. Tim kerja menciptakan lingkungan yang mendorong para anggtanya untuk adaptif dengan perubahan  yang dibutuhkan, mempelajari bisnis, dan mendapatkan keterampilan bekerja sama. (4)

Tuntutan perkembangan tim kerja muncul karena perubahan karakteristik pekerjaan yang semakin menuntut kerja sama antara sejumlah tenaga dengan keahlian berbeda. Ciri-ciri pekerjaan tersebut adalah seperti berikut: (Scholtes & Joiner, 1996)(4)
1.   Pekerjaan semakin kompleks
2.   Dibutuhkan kreativitas
3.   Ketidakjelasan arah masa depan
4.   Tuntutan efisiensi penggunaan sumber daya
5.   Tuntutan komitmen kerja yang tinggi
6.   Tuntutan kooperasi pelaksaan kerja
7.   Tuntutan proses kerja yang interfungsional.

Semakin cocok pekerjaan dengan karakteristik tersebut, semakin dibutuhkan pengembangan tim kerja untuk melaksanakannya. Perusahaan yang ingin mencapai sukses menggunakan tim kerja karena cara tradisional penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan, yang cenderung birokratif dan mengekang kebebasan individu untuk bekerja secara kreatif, tidak cukup tepat dan lentur untuk merespon perubahan. Organisasi menggunakan tim untuk menyelesaikan aneka masalah bisnis dengan tujuan untuk mengurangi waktu kerja, mengurangi siklus waktu, menurunkan kesalahan pelayanan, meningkatkan transaksi, memberikan layanan prima, dan pekerjaan lain yang menuntut kerja sama tim. (4)

Pengembangan tim kerja umumnya akan melalui proses yang terdiri atas 4 tahap: (Belbin, 1991; Quick, 1992)(4)
1.   Tahap pembentukan
Pada tahap ini pemimpin dan anggota tim kerja berupaya menyesuaikan tujuan individu dengan tujuan bersama. Setiap anggota tim kerja berusaha mengenal tugas masing-masing dan bagaimana kaitannya dengan pekerjaan dan tugas anggota lain. Setiap fungsi dan tugas seorang anggota merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari fungsi dan tugas anggota lain.

2.   Tahap perselisihan
Pada tahap ini, terjadi situasi yang sangat krusial dari suatu pengembangan tim. Ketika anggota kelompok berinteraksi, reaksi sosial dan emosional terhadap tugas muncul ke permukaan. Hal ini disebabkan berbagai faktor seperti:
Ø  Perbedaan budaya,
Ø  Perilaku,
Ø  Ambiguitas terhadap peran,
Ø  Komunikasi yang buruk,
Ø  Kurang terampil,
Ø  Pengambilan keputusan yang tidak efektif dan tidak dipahami,
Ø  Kepemimpinan yang buruk, dan
Ø  Penghargaan dan imbalan yang kurang.
Pada tahap ini, peran pemimpin untuk mengelola dan menyelesaikan konflik harus baik, dan anggota kelompok harus mempunyai kesadaran dan komitmen untuk menyelesaikan konflik agar tujuan yang lebih besar dapat diwujudkan. Setiap anggota perlu menyesuaikan diri dengan norma yang akan dikembangkan oleh tim, dan setiap anggota bersedia membatasi kemerdekaan individual demi kesuksesan tim kerja.

3.   Tahap penetapan nilai
Bila perselisihan atau konflik dapat diselesaikan dengan baik, tim akan dapat membuat kesepakatan-kesepakatan baru atau penetapan nilai (value) yang diadopsi bersama. Pada tahap ini, perenungan kembali terhadap impian tim perlu dilakukan oleh setiap anggota kelompok kerja. Pada tahap ini setiap pendapat, pertanyaan, dan kritik terhadap seluruh konstituen tim perlu didiskusikan secara mendalam dan terbuka. Komitmen-komitmen baru yang ditetapkan harus dapat diterima oleh seluruh anggota demi mewujudkan impian bersama. Oleh karena itu, setiap anggota tim harus menghayati misi, visi, dan tujuan tim kerja mereka. Apakah impian-impian mereka? Apakah tujuan mereka di masa depan? Kesamaan terhadap hal ini akan mewujudkan paradigma berpikir yang sama pada seluruh anggota tim sehingga menjadi karakteristik perilaku tim.

4.   Kinerja
Pada tahap ini, komponen penting, yaitu komitmen bersama, saling percaya, dan saling menghormati telah menjadi roh tim kerja. Ketiga komponen inilah yang memberikan kontribusi kuat terhadap stabilitas tim dan rasa aman setiap anggota tim untuk berprestasi mewujudkan tujuan bersama. Kerja sama berkembang lewat penghayatan terhadap peran masing-masing anggota dan tim mampu menyelesaikan problem yang timbul secara komprehensif demi kepentingan tim. Pada tahap ini, semua anggota tim akan bahwa mereka ada di jalur yang benar untuk mewujudkan impian bersama mereka. Semangat tolong-menolong di antara anggota merupakan unsur penting dalam menghasilkan sinergi kinerja tim.

Kembali pada pertanyaan awal: Solidkah tim kita? Bila tim belum solid, maka perkembangan tim berarti masih berada di tahap perselisihan, sehingga masih jauh dari tahap kinerja. Perlu dilakukan evaluasi oleh pemimpin karena peran pemimpin untuk mengelola dan menyelesaikan konflik harus baik, dan anggota kelompok harus mempunyai kesadaran dan komitmen untuk menyelesaikan konflik agar tujuan yang lebih besar dapat diwujudkan.


Daftar Pustaka:
(1)  Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
(2)  Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 417/MENKES/PER/II/2011 tentang Komisi Akreditasi Rumah Sakit
(3)  Peraturan Menteri Kesehatan nomor 012 tahun 2012 tentang Akreditasi Rumah Sakit
(4)  Ilyas, Yaslis, Kiat Sukses Manajemen Tim Kerja, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003