sambutan

selamat datang sahabat.....

Minggu, 29 Mei 2016

Perjalanan Pulang dari Bukit Barisan



Perjalanan menuju air terjun Batang Kapas di Desa Lubuk Bigau, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, terasa berat dan sangat menantang. Apakah perjalanan pulang akan lebih mudah? Bagiku perjalanan pulang sama sulitnya dengan pengalaman pergi. Lala dan anak-anak lainnya berlarian menuruni Bukit Barisan, sementara aku tetap harus berjalan pelan dan hati-hati menuruni bukit terjal.

Mereka serasa main seluncuran saat menuruni bukit sementara aku tetap harus menjaga keseimbangan tubuhku agar tidak berguling-guling menuruni bukit. Sehingga mereka harus bersabar menungguku ketika aku tertinggal jauh. “Harus sabar…”, kata Hengki saat berjalan bersamaku. Anak kecil ini memiliki kepribadian yang bagus. :) 
Pepohonan hutan sebagiannya telah berusia tua. Ada pohon yang perkiraan usianya lebih dari 200 tahun. Ada juga pohon mati yang berwarna cantik.


 Gambar 1. Pohon yang berusia lebih 200 tahun, hasil jepretan Arika


Gambar 2. Pohon Mati yang Terlihat Cantik

Kami sampai di air terjun Batang Kapas pada saat siang. Kami menikmati makan siang bersama-sama. Nasi telah dimasak pagi tadi saat di goa, sedangkan lauk-pauk masih ada dari bekal kemarin. Karena perhitungan waktu untuk mencapai desa, maka kami tidak ada yang berenang di air terjun. Sebagian dari rombongan telah berenang di air terjun Batang Kapas saat awal kedatangan kemarin.



Gambar 3. Fuad Berfoto di Air Terjun Batang Kapas


Hutan di Bukit Barisan ini sangat asri dan alami. Pohonnya lurus-lurus seperti ditata dengan baik. Memang tidak ada yang mampu mengalahkan penataan yang Maha Kuasa. Dalam perjalanan menuruni Bukit Barisan juga terdapat air terjun lain yang lebih rendah. Bentuknya seperti tirai. Cantik. 

 Gambar 4. Rani Berfoto Dalam Air Terjun Tirai


Gambar 5. Hutan Yang Asri Dengan Air Terjun Tirai Yang Cantik


Aliran Sungai Batang Kapas ini juga membentuk air terjun berikutnya setelah air terjun tirai. Namun aku tidak mau singgah ketika ditawarkan oleh Hengki, karena jalannya terjal dan energiku rasanya tidak cukup untuk menahan keseimbangan tubuhku. Masih ada tantangan sulit berikutnya yang mesti aku pertimbangkan, menuruni tangga terjal yang ekstrim dengan kemiringan 100 derajat dan jarak antar tangga berkisar 60 cm atau lebih. Awalnya tangga ini direncanakan Arika untuk ditambah anak tangganya, agar tidak terlalu sulit bagiku menuruninya, namun terdapat kendala dalam perjalanan sehingga tidak ada kesempatan untuk memperbaiki tangga. Perlahan-lahan aku menuruni tangga dengan diarahkan oleh Arika, alhamdulillah aku berhasil menuruninya dengan baik. Aku difoto Rani setelah berhasil menuruni tangga. Hengki menuruni tangga setelah aku berhasil menuruni tangga.  


Gambar 6. Tangga Ekstrim Dalam Perjalanan ke Air Terjun Batang Kapas


Kami melanjutkan perjalanan melewati hutan pakis saat hujan mulai turun perlahan. Menembus hujan kami menyusuri hutan dan sungai Batang Kapas menuju pedesaan. Kami sampai di desa saat malam udah turun. Kami dijemput dengan sepeda motor, namun Hengki, Lala dan Rani tetap memilih berjalan kaki. Karena mereka berada terdepan dan masih banyak anggota rombongan di belakang, maka Hengki meminta agar ayahnya menjemput anggota rombongan yang tertinggal di belakang. Kami melewati malam dengan bercengkerama dengan penduduk desa dan Nuraisyah Rahmadina, petugas kesehatan yang bertugas di Lubuk Bigau. Kami menginap di rumah orang tua Hengki. Aku sangat terkesan dengan sikap Hengki selama perjalanan, mudah-mudahan dia menjadi pemimpin saat dewasa nanti. 

Ahad pagi kami bersiap untuk kembali ke Bangkinang. Ayah Hengki ikut mengantarkan kami ke tempat mobil dititipkan. Dari pagi ayah Hengki telah sibuk memperbaiki sepeda motor untuk memastikan sepeda motor layak menempuh perjalanan sulit. Kami berangkat saat matahari telah tinggi, agar jalan tanah mulai kering karena hujan malam tadi. Rombongan bergerak menyusuri jalan desa menuju jalan yang berlobang-lobang ke perbatasan Riau dan Sumatera Barat. Sebagian jalan masih licin karena masih basah. Beberapa kali kami nyaris tergelincir. Berasa naik motocross tapi dengan sepeda motor bebek. Aku lupa memotret perjalanan sulit ini karena sangat terpukau oleh beratnya medan perjalanan. Sampai di rakit, aku kembali teringat untuk memotret perjalanan.


 Gambar 7. Sungai Yang Harus Dilewati Dengan Rakit


 Gambar 8. Sungai Dangkal Dalam Perjalanan


Gambar 9. Sungai Dangkal di Perjalanan Pada Sisi Yang Lain


 Gambar 10. Rakit Yang Digunakan Untuk Menyeberangi Sungai Bambunya Masih Hidup


 Gambar 11. Rakit Beserta Talinya Yang Digunakan Untuk Menyeberang Sungai

Di puncak bukit Angin-angin kami beristirahat dan menelfon keluarga mengabarkan posisi kami. Mereka menguatirkan kami karena kami tidak bisa dihubungi.

 Gambar 12. Bukit Angin-angin, Perbatasan Riau Dengan Sumatera Barat
Arah Ke Sumatera Barat



 Gambar 13. Bukit Angin-angin, Perbatasan Riau Dengan Sumatera Barat
Arah Ke Riau


Kami sampai di warung tempat kami menitipkan mobil setelah lewat pukul 11. Setelah beristirahat kami melanjutkan perjalanan dengan mobil menempuh jembatan rusak dan jalan berlobang hingga akhirnya kami sampai di Tanjung Pati. Sungguh sebuah perjalanan liburan yang luar biasa. Aku gak menyangka aku berhasil mengatasi semua kesulitan perjalanan dalam liburan kali ini. Alhamdulillah…


Catatan perjalanan 7 – 8 Mei 2016