sambutan

selamat datang sahabat.....

Rabu, 18 Mei 2016

Menjaga Mutu Rumah Sakit



Menjaga mutu (Quality assurance) adalah suatu program berlanjut yang disusun secara objektif dan sistematik dalam memantau dan menilai mutu dan kewajaran asuhan terhadap pasien, menggunakan peluang untuk meningkatkan asuhan pasien dan memecahkan masalah-masalah yang terungkap. 
Mutu pelayanan kesehatan menjadi sulit untuk diukur, karena hasil yang terlihat merupakan resultan dari berbagai faktor yang berpengaruh. Walaupun demikian secara jelas dapat dibedakan komponen itu adalah:
  1. Struktur: sarana fisik, perlengkapan dan peralatan organisasi dan manajemen, keuangan, sumber daya manusia dan sumber daya yang lain. Dinilai dari kewajaran, kuantitas daan efisien. Struktur terkait dengan in put atau masukan. 
  2. Proses: saran kegiatan dokter, kegiatan perawat, kegitan administrasi pasien yang dinilai dari relevansi dan efektifitas.
  3. Out come: jangka pendek seperti sembuh dari sakit, cacat dan lain – lain yang disebut dengan out put. Jangka panjang seperti kemiungkinan – kemungkinan kambuh, kemungkinan sembuh dimasa datang yang disebut dengan impack atau dampak.

Mutu pelayanan rumah sakit dapat pula dilihat dari segi aspek yang berpengaruh. Aspek berarti termasuk hal-hal yang secara langsung atau tidak berpengaruh terhadap penilaian. Aspek tersebut adalah:
1.      Aspek klinis,  yaitu menyangkut pelayanan dokter, perawat dan terkait dengan teknis medis.
2.      Efisiensi dan efektifitas,  yaitu pelayanan yang murah, tepat guna, tidak ada diagnosis dan terapi yang berlebihan.
3.      Keselamatan pasien, yaitu upaya perlindungan terhadap pasieen, misalnya perlindungan jatuh dari tempat tidur, kebakaraan.
4.      Kepuasan pasien, yaitu yang berhubungan dengan kenyamanan, keramahan dan kecepatan pelayanan.

Indikator aspek klinis adalah:
o   Angka infeksi nosokomial;
o   Angka kematian rumah sakit;
o   Kasus kelainan neurologi yang timbul selama pasien dirawat;
o   Timbulnya dekubitus selama perawatan;
o   Indikasi operasi tidak tepat;
o   Salah yang dioperasi;
o   Salah alat tubuh yang dioperasi;
o   Kesalahan teknis operasi;
o   Komplikasi pembedahan;
o   Perbedaan antara diagnosa prabedah dengan penemuan patologi anatomi pasca bedah;
o   Operasi ulang untuk menanggulangi penyakit;
o   Infeksi pasca bedah;
o   Kematian karena operasi;
o   Reaksi obat;
o   Komlpikasi pengobatan intravena;
o   Reaksi tranfusi;
o   Angka sectio caesaria yang tidak wajar tingginya;
o   Angka kematian ibu melahirkan.

Indikator aspek efisiensi dan efektifitas:
o   Masalah antar jemput pasien ke dan dari kamar bedah, bagian rontgen dan sebagainya;
o   Pasien harus menunggu terlalu lama di kamar operasi, kamar rontgen dan lain-lain sebelum ditolong;
o   Persiapan di kamar bedah, kamar bersalin dan sebagainya;
o   Masalah dengan logistik kamar bedah, ruang perawatan, ruang bersalin dsb;
o   Masalah pemakaian obat;
o   Masalah lamanya pasien dirawat;
o   Masalah dengan prasarana (listrik, air, instalasi gas dll);
o   Masalah teknis dengan alat-alat dan perlengkapan;
o   Masalah dengan sumber daya manusia;
o   Masalah dengan koordinasi antar unit pelaksana;
o   Prosedur administrasi yang rumit.

Indikator aspek keselamatan pasien:
o   Pasien terjatuh dari tempat tidur;
o   Pasien terjatuh di kamar mandi, toilet dsb;
o   Pasien diberi obat yang salah;
o   Pasien lupa diberi obat;
o   Tidak ada obat dan alat untuk emergency ketika diperlukan;
o   Tidak ada oksigen ketika dibutuhkan;
o   Tidak dilakukan cross match pada pasien yaang aakan ditranfusi;
o   Infeksi nosokomial;
o   Alaat penyedot lendir yang tidak berfungssi dengan baik;
o   Alat anestesi tidak berfungsi baik;
o   Alat pemadam kebakaran tidak tersedia;
o   Tidak ada rencana penanggulangan bencana dsb.

Indikator aspek kepuasan pasien:
o   Jumlah keluhan daripasien atau keluarga;
o   Hasil penilaian dengan kuisioner atau survey tentang derajat kepuasan pasien;
o   Kritik dalam kolom surat pembaca koran;
o   Pengaduan mal praktek;
o   Laporan dari staf medik dan perawatan tentang kepuasan pasien.

Ciri mutu yang baik adalah sebagai berikut:
o   Tersedia dan terjangkau
o   Tepat kebutuhan
o   Tepat sumber daya
o   Tepat standar profesi/etika profesi
o   Wajar dan aman
o   Mutu memuaskan bagi pasien yang dilayani.

Pelayanan medis yang baik adalah sebagai berikut:
o   Didasari oleh praktek medis yang rasional dan didasari oleh ilmu kedokteran
o   Mengutamakan pencegahan
o   Terjadinya kerjasama antara masyarakat dengan ilmuwan medis
o   Mengobati seseorang sebagai keseluruhan
o   Memelihara kerjasama antara dokter dengan pasien
o   Berkoordinasi dengan pekerja sosial
o   Mengkoordinasikan semua jenis pelayanan medis
o   Mengaplikasikan pelayanan modern dari ilmu kedokteran yang dibutuhkan masyarakat.

Menjaga mutu (quality assurance) menjadi penting bagi berbagai pihak dengan alasannya masing-masing, diantanya adalah:
1.      Bagi rumah sakit
Persaingan antar rumah sakit memerlukan pelayanan bermutu agar mampu bertahan. Selain itu adanya kemajuan teknologi yang canggih memerlukan pemilihan yang tepat dan rasional antara mutu pelayanan dan biaya.
2.      Bagi pasien
Pasien semakin kritis, ia mengerti akan hak, maka ia ingin pelayanan yang aman dan memuaskan, kemudian ia punya hak memilih, maka mutu pelayanan akan merupakan salah satu sebab dipilihnya rumah sakit tertentu.
3.      Bagi dokter
Selain standar profesi yang telah ditentukan juga berhadapan dengan asumsi dan tuntutan hukum yang semakin gencar, menyebabkan dokter hati-hati dan tertarik akan mutu pelayanan, selain itu ternyata kesembuhan pasien tidak oleh obat, tapi juga oleh faktor yang terkait.
4.      Bagi pemerintah
Pemerintah berusaha atas standar minimal pelayanan maka pemantauan mutu yang baik akan bermanfaat dalam memutuskan salah benarnya tindakan.

Model menjaga mutu (quality assurance) merupakan kegiatan – kegiatan yang saling terkait yang berupaya untuk menjaga mutu pelayanan rumah sakit. Model menjaga mutu seperti terlihat pada gambar pada halaman berikut:




Komponen model terdiri dari:
o   Identifikasi nilai
Artinya menentukan nilai-nilai ataau atura-aturan tertentu yang berlaku. Contoh:
ü  sterilisasi kamar operasi
ü  standar terapi yang ada
o   Identifikasi standar dan kriteria
Penentuan standar yaitu penentuan patokan tertentu, sedangkan kriteria adalah patokan baik dan buruk, benar salahnya pada tingkatan tertentu. Contoh:
ü  Standar terapi tifoid: kriteria sembuhnya 5 hari tidak panas.
o   Melakukan penilaian
Patokan standar kriteria dalam penilaian apakah ada penyimpangan atau tidak.
o   Membuat interpretasi
Hasil penilaian diolah se berapa jauh penyimpangan itu dan apa sebabnya.
o   Pembentukan tindakan
Dari masalah yang ada dibuat alternatif tindakan yang mungkina dilakukan untuk mengatasinya.
o   Memilih tindakan
Dipilih tindakan yang terbaik dengan memperhatikan segala aspek.
o   Melakukan tindakan
Melakukan tindakan yang terbaik sehingga dapat menyelesaikan masalah.

Sumber:
(1)          Sabarguna, BS, Buku Pegangan Mahasiswa Manajemen Rumah Sakit Jilid 2, Sagung Seto,  Jakarta, 2009.
(2)          Sabarguna, BS, Quality Assurance Pelayanan Rumah Sakit 1, Sagung Seto, Jakarta, 2008.