sambutan

selamat datang sahabat.....

Minggu, 15 Mei 2016

Air Terjun Batu Dinding 2 dan Stasiun Lapangan Subayang, Wisata Alam Kampar Kiri Hulu



         Cerita pengalaman dan foto-foto berkemah di air terjun Batu Dinding Desa Tanjung Belit, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau membuat para ponakanku penasaran. Mereka meminta kami menjadwalkan perjalanan bersama mereka ke air terjun Batu Dinding saat mereka liburan.  Pada liburan kali ini kami merencanakan perjalanan wisata alam bersama dua orang keponakanku, Lala dan Pipit serta teman mereka. Sementara keponakan dan saudara yang lain merencanakan akan berkunjung di waktu yang akan kami tentukan kemudian.

Perjalanan menuju air terjun di Desa Tanjung Belit kali ini bersama tim yang lebih bervariasi, berjumlah enam orang. Aku menjadi anggota tertua dan bocah usia lima tahun menjadi anggota termuda. Semula aku meragukan kemampuan bocah itu berjalan kaki mencapai air terjun Batu Dinding. Aku mengingatkan Rafa, nama bocah tersebut, bahwa bila dia gak mampu berjalan maka gak ada yang akan menggendongnya untuk mencapai air terjun. Rafa mengatakan dia mampu. Rani, adikku, juga yakin Rafa mampu. Namun kami tetap memikirkan rencana alternatif bila akhirnya dia gak mampu berjalan kaki mencapai air terjun Batu Dinding.
Kami memulai perjalanan dari Pekanbaru pada jam delapan pagi dengan persiapan bekal hanya untuk sampai sore, karena kami memang tidak merencanakan menginap di air terjun. Hanya beberapa kilometer berjalan dari rumah kakakku, tiba-tiba mobilku mogok. Kami serentak kaget. Syukurnya karena belum jauh dan masih berada di daerah dengan sinyal telfon, maka aku menenfon Kakakku minta tukar mobil. Aku memanggilnya dengan sebutan Udo, anak ketiga di Kampar dipanggil dengan panggilan Udo untuk anak laki-laki ataupun perempuan. Aku gak tau apa jadinya bila mobilku mogok di daerah tanpa sinyal telfon…. Hehehe… Gak berapa lama Udo muncul di hadapan kami, semuanya lega karena dapat melanjutkan perjalanan kembali. Kami meninggalkan Udo dengan menambah pekerjaannya untuk mengurus mobilku. Udo sudah pernah ikut ke Batu Dinding saat perjalanan kami yang pertama dan menginap di air terjun Batu Dinding.
Perjalanan setelah itu dari Pekanbaru ke desa Tanjung Belit tanpa mengalami kendala. Di rumah Kepala Desa Tanjung Belit, kami menitipkan kendaraan. Karena tidak merencanakan menginap maka hanya sedikit beban yang kami bawa, yaitu makanan dan minuman. Aku kembali bertanya pada Rafa, apakah dia yakin akan berjalan ke air terjun? Dengan bersemangat Rafa mengatakan dia mampu. Anggota tim saat ini hanya aku dan Rani yang telah mengunjungi air terjun Batu Dinding. Kami memulai pendakian dengan berdoa, mudah-mudahan tidak ada kendala yang menggagalkan harapan mereka untuk mencapai air terjun.
Kami mencapai air terjun setelah 1 jam berjalan kaki. Mendaki dan menuruni bukit, meniti jembatan kayu, serta melewati sungai berbatu hingga akhirnya sampai di air terjun. Anggota tim dengan bersemangat langsung masuk dalam lubuk air terjun. Begitu juga Rafa, dia kegirangan karena berhasil mencapai air terjun tanpa bantuan, kami hanya berhenti beristirahat saat merasa lelah.
Kunjungan kali ini di hari libur, karena kami tidak menginap, tentu saja ramai pengunjung, sehingga anggota tim tidak nyaman untuk berenang. Setelah berfoto-foto dan main air, kami memutuskan menuju air terjun Batu Dinding 2 yang belum terlalu banyak dikenal dan air terjunnya lebih rendah dari air terjun Batu Dinding 1, agar kami bisa berenang sepuasnya. Seperti yang dapat kita baca pada papan selamat datang, bahwa disini terdapat 2 air terjun dan 1 air selancar. 

Gambar 1. Papan Selamat Datang

Gambar 2. Rafa berenang dengan gembira di Air Terjun Batu Dinding 2


 Gambar 3. Pipit dan Lala berenang di lubuk air terjun Batu Dinding 2


Gambar 4. Suasana alam lubuk air terjun Batu Dinding 2


Kali ini aku hanya menampilkan foto air terjun Batu Dinding 2 dan nuansa lain dalam wisata sungai Subayang. Setelah puas berenang di air terjun Batu Dinding 2, maka kami melanjutkan perjalanan dengan wisata sungai Subayang. Seluruh anggota tim terpesona menyaksikan keindahan alam di sepanjang sungai Subayang. Aku memotret pemandangan pinggir sungai Subayang yang gak terekam baik pada kunjungan sebelumnya.

 Gambar 5. Wisata Sungai Subayang


Gambar 6. Rafa menikmati keindahan sungai Subayang


 Gambar 7. Menikmati wisata sungai Subayang

Gambar 8. Keindahan alam di pinggir sungai Subayang


 Gambar 9. Keindahan alam di pinggir sungai Subayang


 Gambar 10. Keindahan alam semula jadi di pinggir sungai Subayang

           Dalam perjalanan kali ini kami singgah di Stasiun Lapangan Subayang. Stasiun ini berfungsi untuk:

1.      Pusat kegiatan penelitian keanekaragaman hayati;
2.      Pusat pendidikan dan latihan konservasi sumber daya alam;
3.      Pusat pengembangan ekowisata yang melibatkan masyarakat sekitar; dan
4.      Pusat informasi untuk menunjang pengamanan dan perlindungan kawasan hutan Bukit Rimbang Bukit Baling.

Mudah-mudah sesuai dengan fungsinya sebagai stasiun lapangan, alam di kawasan Bukit Rimbang Bukit Baling terjaga dan terpelihara kelestariannya dari kerusakan alam karena ulah tangan manusia.


                                          Gambar 11. Menuju Stasiun Lapangan Subayang


                              Gambar 12. Plang selamat datang di Stasiun Lapangan Subayang



 Gambar 13. Jalan menuju Stasiun Lapangan Subayang


                                        Gambar 14. Rumah di Stasiun Lapangan Subayang



 Gambar 15. Fungsi Stasiun Lapangan Subayang

Gambar 16. Di akhir perjalanan menyusuri sungai Subayang


Catatan perjalanan 15 Februari 2015