sambutan

selamat datang sahabat.....

Jumat, 27 Mei 2016

Air Terjun Batang Kapas, Kecamatan Kampar Kiri Hulu



Dua tahun lalu aku mendapat informasi tentang keberadaan beberapa air terjun di Kampar Kiri Hulu. Air terjun yang paling menantang untuk dikunjungi di Kampar Kiri Hulu adalah air terjun Batang Kapas di Desa Lubuk Bigau. Sejak dua tahun lalu kami telah merencanakan perjalanan menuju air terjun tertinggi kedua di Sumatera ini, tingginya lebih 150 meter. 

Perjalanan menuju air terjun Batang Kapas di desa Lubuk Bigau menurut informasi yang ada menempuh medan yang sangat sulit. Pemandu awal yang aku minta mendampingi perjalanan kesana meragukan kemampuanku untuk menghadapi kesulitan medan perjalanan. Mungkin karena keraguan tersebut dan sulitnya kendaraan untuk kesana, maka aku tidak menerima informasi tindak lanjut perjalanan. 

Pada awal tahun 2016 Rani mengenal orang yang sangat memahami jalan ke air terjun Batang Kapas, merupakan asli warga tempatan, ketua pemuda Kenagarian Pangkalan Kapas, Arika Harmon. Kami kembali bersemangat untuk mengunjungi air terjun Batang Kapas. Namun membaca berita tentang musibah banjir dan longsor yang menimpa 7 (tujuh) desa yaitu Desa Deras Tajak, Desa Tanjung Karang, Desa Batu Sasak, Desa Pangkalan Kapas, Desa Lubuk Bigau, Desa Tanjung Permai dan Desa Kebun Tinggi yang mengakibatkan terisolirnya tujuh desa tersebut sejak akhir 29 November 2015, maka kami harus menunggu kondisi jalan menuju desa Lubuk Bigau membaik. 

Selama beberapa bulan kondisi jalan menuju tujuh desa yang terisolir masih dilakukan perbaikan. Ketika Pekan Imunisasi Nasional (PIN) yang dilaksanakan tanggal 8 – 15 Maret 2016, aku melihat kiriman foto melalui Facebook oleh tenaga kesehatan yang bertugas di Desa Lubuk Bigau, Nuraisyah Rahmadina, tentang sulitnya medan yang ditempuh untuk melakukan imunisasi. Kondisi jalan sangat buruk, sekalipun untuk ditempuh dengan sepeda motor. 

Kami merencanakan perjalanan ke air terjun Batang Kapas pada liburan di bulan Maret 2016. Namun karena kondisi jalan masih sulit untuk ditempuh, maka perjalanan tersebut akhirnya ditunda ke liburan di bulan Mei 2016. Direncanakan kami berangkat tanggal 5 – 7 Mei 2016. Pada akhir April 2016, saat Arika berada di Bangkinang pada sebuah acara momen Pilkada, dia menyempatkan berkunjung ke rumah untuk membicarakan perjalanan ke air terjun Batang Kapas. Termasuk juga menanyakan kesiapanku dan Rani terhadap perjalanan sulit tersebut. Kami memastikan jumlah tim yang akan berangkat. Aku dan Rani berbagi mengontak keluarga yang merencanakan ikut. Akhirnya kami putuskan berangkat 5 (lima) orang, 4 (empat) perempuan dan 1 (satu) laki-laki. Arika akan menyiapkan teman-temannya dan sepeda motor untuk menjemput dan mengantar kami. 

Beberapa hari sebelum berangkat, Arika yang saat itu berada di RSUD Bangkinang meneleponku, kebetulan aku sedang rapat dengan tim, aku menemuinya di rawat inap lantai 3, di ruang Pejuang. Dia mengenalkanku dengan Kepala Desa yang kebetulan juga sedang di RSUD Bangkinang menjenguk warganya yang sakit. Aku kembali memastikan rencana keberangkatan. Sehari sebelum berangkat, Arika menelepon menyampaikan agar aku tetap melanjutkan perjalanan seperti rencana walaupun dia tidak bisa lagi ditelepon karena dia telah berada di daerah tanpa sinyal telepon. 

Sore Rabu kami mulai mempersiapkan keberangkatan yang direncanakan dimulai hari Kamis pukul 07.00 agar pukul 10 kami telah sampai di Tanjung Pati. Subuh Kamis kami saling menelepon agar perjalanan sesuai rencana. Namun, terdapat kendala di luar perencanaan sehingga kami mulai berangkat dari Bangkinang setelah pukul 08 dan sampai di Tanjung Pati pada pukul 11 lewat. Kami berhenti untuk makan sebelum melanjutkan perjalanan ke arah yang dituju. Setelah mengisi bensin, kami menuju simpang Bukit Limbuku dan melanjutkan perjalanan menuju Desa Buluh Kasok. Perjalanan masih melewati jalan aspal sampai akhirnya di ujung desa kami bertemu jalan tanah yang berlobang-lobang. Beberapa kilometer melewati jalan berlobang, kemudian kami bertemu jembatan di atas sungai kecil. Arika telah menunggu kami disana. Jembatan kayu tersebut telah rusak dan berlobang-lobang. Karena kuatir, maka kami turun dari mobil dan sopirpun diambil alih Fuad. Ternyata ban mobil pas berada di pinggir patahan kayu. Melihat kami turun dari mobil, seorang ibu menyapa kami, mengatakan agar kami tak usah kuatir karena biasanya truk juga lewat disana. Kami jadi ingat bahwa di jalan kami memang sempat berselisih dengan truk. 

Kami sampai di sebuah warung tempat kami akan menitipkan mobil. Setelah shalat dan istirahat sejenak, maka kami melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor. Kami melewati jalan tanah berlobang-lobang mendaki dan menuruni bukit. Sopir sepeda motor yang membawa kami merupakan orang-orang yang berpengalaman melewati medan sulit tersebut, sehingga mereka membawa motor tetap dengan kecepatan tinggi. Aku serasa naik motocross, namun pake sepeda motor bebek. Kebayang gak? 


 Gambar 1. Jalan menuju Desa Lubuk Bigau, Kampar Kiri Hulu


Di bukit Angin-angin, bukit perbatasan wilayah Sumatera Barat dengan Riau, kami beristirahat dan menelepon keluarga, karena ini tempat terakhir dengan sinyal telepon yang cukup bagus. 

 Gambar 2. Puncak Bukit Angin-angin arah keberangkatan



 Gambar 3. Puncak Bukit Angin-angin arah tujuan



Gambar 4. Puncak Bukit Angin-angin arah tujuan


Kami melanjutkan perjalanan di medan sulit ini. Melewati sungai dangkal dengan menggunakan rakit. 


Gambar 5. Penyeberangan dengan menggunakan rakit


Dalam perjalanan kami berjumpa dengan para pemuda yang sedang latihan motocross di jalan yang kami tempuh. Mereka berjumlah sekitar sepuluh sepeda motor yang memang standar untuk motocross. Kami sampai di Desa Lubuk Bigau pada sore hari. Perjalanan menuju air terjun dilakukan besok harinya setelah shalat Jumat. Pada pagi hari Jum`at kami bermain di sungai Batang Kapas yang berada di desa Lubuk Bigau. Air sungainya jernih dan sungainya dangkal. 


 Gambar 6. Sungai Batang Kapas di Desa Lubuk Bigau


Gambar 7. Sungai Batang Kapas di Desa Lubuk Bigau

Sebelum rombongan laki-laki ke mesjid untuk shalat Jum`at, maka kami diantar ke batas lokasi terakhir yang bisa ditempuh sepeda motor. Kami istirahat, makan dan shalat di pinggir sungai. 


Gambar 8. Sungai Batang Kapas di ujung Desa Lubuk Bigau

Pukul 14 rombongan berdatangan ke tempat kami menunggu. Seluruhnya berjumlah 15 orang. Setelah semua yang direncanakan mengikuti perjalanan ini berkumpul, maka kami memulai perjalanan. Seorang Bapak yang mengantar anaknya mengatakan bahwa kami akan sampai di air terjun pada pukul 20. Kami hanya tertawa mendengarnya. 

Perjalanan melewati sungai-sungai kecil dan hutan pakis terasa menyenangkan. Medan menjadi sangat sulit bagiku ketika kami harus memanjat tangga kayu yang terjal, sudut sekitar 100 derajat, dengan anak tangga berjarak sekitar 60 centimeter. Aku kaget. Aku phobia ketinggian.  Arika memang bercerita tentang tangga yang akan dipanjat, tapi aku sama sekali tidak menduga kondisi tangganya sedemikian sulit. Jumlah tangganya tidak banyak, hanya 7 (tujuh), namun tangga terakhir menuju tanah jaraknya justru lebih dari 60 cm. Bila jarak antar tangganya 30 cm maka tentu tidak terlalu sulit bagiku untuk menghadapinya. Rombongan kami yang terdiri atas anak-anak dan Lala telah menghilang melanjutkan perjalanan. Tinggal kami berlima. Mereka menyemangatiku untuk mengatasi ketakutanku. Dengan penuh perjuangan akhirnya aku berhasil melewati rintangan tersebut.  


 Gambar 9. Sungai Batang Kapas dalam perjalanan menuju air terjun Batang Kapas


 Gambar 10. Perjalanan menuju air terjun Batang Kapas


Jalan tanah terjal yang harus didaki dengan kemiringan 100 derajat terdapat di beberapa tempat. Alhamdulillah pada pukul 18 kami berhasil sampai di air terjun Batang Kapas. Pemandangan yang indah membayar semua kesulitan dan lelah perjalanan. Rekamannya dapat dilihat disini.


Gambar 11. Air Terjun Batang Kapas, Desa Lubuk Bigau, Kec. Kampar Kiri Hulu, Kab. Kampar, Prov. Riau


Saat hutan mulai gelap kami segera berjalan menuju tempat menginap malam itu. Dengan bantuan senter kami melintasi hutan dan mendaki bukit menuju goa tempat beristirahat. 


Catatan perjalanan 5 – 6 Mei 2016.