sambutan

selamat datang sahabat.....

Senin, 17 November 2014

Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit (K3RS)

            Setiap tahun di dunia terjadi 270 juta kecelakaan kerja, 160 juta pekerja menderita penyakit akibat kerja, kematian 2.2 juta dan kerugian finansial sebesar 1.25 triliun USD. Sedangkan di Indonesia menurut data PT. Jamsostek (Persero) dalam periode 2002-2005 terjadi lebih dari 300 ribu kecelakaan kerja, 5000 kematian, 500 cacat tetap dan konpensasi lebih dari Rp. 550 milyar. Konpensasi ini adalah sebagian dari kerugian langsung dan 7.5 juta pekerja sektor formal yang aktif sebagai peserta Jamsostek. Diperkirakan kerugian tidak langsung dari seluruh sektor formal lebih dari Rp. 2 triliun, dimana sebagian besar merupakan kerugian dunia usaha. (DK3N, 2007). 1


Menurut data WHO, dari 35 juta pekerja kesehatan terdapat 2 juta yang terpajan virus HBV, 0,9 juta yang terpajan virus HBC dan 170.000 yang terpajan virus HIV/AIDS sehingga dapat terjadi 15.000 HBC, 70.000 HBB dan 1000 kasus HIV. Keadaan ini lebih dari 90% terjadi di negara berkembang. Sedangka 8 – 12% pekerja Rumah Sakit sensitif terhadap lateks.

Menurut data ILO (2000), kematian akibat penyakit menular yang berhubungan dengan pekerjaan terdapat laki-laki 108 – 256 dan perempuan 517 – 404.

Di Indonesia terdapat data hasil penelitian di Instalasi Bedah Sentral di RSUD di Jakarta tahun 2006 dimana gaya berat yang ditanggung pekerja rata-rata lebih dari 20 kilogram didapatkan keluhan subjektif low back pain pada 83,8% pekerja dengan penderita terbanyak usia 30 – 49 tahun sebanyak 63,3%. Terdapat juga data (2006) dimana 65,4% petugas pembersih suatu Rumah Sakit di Jakarta menderita Dermatitis Kontak Iritan Kronik Tangan. Penelitian    Dr. Joseph tahun 2005 – 2007 mencatat bahwa angka KAK NSI (needle stick injury) mencapai 38 – 73% dari total petugas kesehatan. Prevalensi gangguan mental emosional 17,7% pada perawat di suatu Rumah Sakit di Jakarta berhubungan bermakna dengan stressor kerja. Insiden akut secara signifikan lebih besar terjadi pada pekerja Rumah Sakit dibandingkan seluruh pekerja di semua katagori (jenis kelamin, ras, umur dan status pekerjaan) (Gun, 1983). 2

Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan bab XII  Kesehatan Kerja pasal 164 – 166 menjelaskan tentang aturan yang mesti dipatuhi berkaitan dengan kesehatan kerja.  Upaya kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan meliputi pekerja di sektor formal dan informal. Pemerintah membuat standar kesehatan kerja yang harus dipatuhi oleh pengelola tempat kerja. Pengelola tempat kerja wajib menjamin lingkungan kerja yang sehat dan bertanggung jawab atas terjadinya kecelakaan kerja serta bertanggung jawab atas kecelakaan kerja yang terjadi di lingkungan kerja sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pengelola tempat kerja wajib melakukan segala bentuk upaya kesehatan melalui upaya pencegahan, peningkatan, pengobatan dan pemulihan bagi tenaga kerja. Pekerja wajib menciptakan dan menjaga kesehatan tempat kerja yang sehat dan menaati peraturan yang berlaku di tempat kerja. Majikan atau pengusaha wajib menjamin kesehatan pekerja melalui upaya pencegahan, peningkatan, pengobatan dan pemulihan serta wajib menanggung seluruh biaya pemeliharaan kesehatan pekerja. Majikan atau pengusaha juga harus menanggung biaya atas gangguan kesehatan akibat kerja yang diderita oleh pekerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 3

Menurut data di atas, Rumah Sakit adalah salah satu perusahaan yang pekerjaannya mengandung potensi bahaya yang besar, berupa infeksi, kebakaran, pencemaran serta potensi-potensi bahaya lainnya. Dengan besarnya bahaya kecelakaan kerja yang dapat terjadi maka perlu diketahui apakah pelaksanaan kesehatan kerja telah sesuai dengan standar yang telah ditentukan.

Pengertian Kesehatan Kerja 2

Kesehatan Kerja menurut WHO/ILO (1995), Kesehatan Kerja bertujuan untuk meningkatkan dan pemeliharaan derajat kesehatan fisik, mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jenis pekerjaan, pencegahan terhadap gangguan kesehatan kerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan; perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan; dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam dalam suatu lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya.

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah upaya untuk memberikan jaminan keselamatan dan meningkatkan derajat kesehatan pekerja dengan cara pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja (PAK), pengendalian bahaya di tempat kerja, promosi kesehatan, pengobatan dan rehabilitasi.
Pengertian Pekerja 4

           Menurut UU no 13 Tahun 2003, pekerja adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendirimaupun untuk masyarakat.

Standar Pelayanan Kesehatan Kerja di Rumah Sakit 2

Setiap Rumah Sakit wajib melaksanakan pelayanan kesehatan kerja. Adapun pelayanan kesehatan kerja yang perlu dilakukan adalah :
1.      Melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum kerja bagi pekerja
2.      Melaksanakan pendidikan dan penyuluhan/pelatihan tentang kesehatan kerja dan memberikan bantuan kepada pekerja di Rumah Sakit dalam penyesuaian diri baik fisik maupun mental terhadap pekerjannya.
3.      Melakukan pemeriksaan berkala dan pemeriksaan khusus sesuai dengan pajanan di Rumah Sakit.
4.      Meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental (rohani) dan kemampuan fisik pekerja.
5.      Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi pekerja yang menderita sakit.
6.      Melakukan pemeriksaan kesehatan khusus pada pekerja Rumah Sakit yang akan pensiun atau pindah kerja.
7.      Melakukan koordinasi dengan tim Panitia Pencegahan dan Pengendalian Infeksi mengenai infeksi terhadap pekerja dan pasien.
8.      Melaksanakan surveilans kesehatan kerja.
9.      Melaksanakan pemantauan lingkungan kerja dan ergonomi yang berkaitan dengan kesehatan kerja (Pemantauan/pengukuran terhadap faktor fisik, kimia, biologi, psikososial dan ergonomi).
10.  Membuat evaluasi, pencatatan dan pelaporan kegiatan kesehatan kerja yang disampaikan kepada Direktur Rumah Sakit dan Unit teknis terkaait di wilayah kerja Rumah Sakit.

Standar Pelayanan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit 2

Pada prinsipnya pelayanan keselamatan kerja berkaitan erat dengan sarana, prasarana dan peralatan kerja. Bentuk pelayanan keselamatan kerja yang dilakukan :

1.      Pembinaan dan penawasan keselamatan/keamanan sarana, prasarana dan peralatan kesehatan.
2.      Pembinaan dan pengawasan atau penyesuaian peralatan kerja terhadap pekerja.
3.      Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja.
4.      Pembinaan dan pengawasan terhadap sanitair.
5.      Pembinaan dan pengawasan perlengkapan keselamatan kerja.
6.      Pelatiahn/penyuluhan keselamatan kerja untuk semua pekerja.
7.      Memberikan rekomendasi/masukan mengenai perencanaan, pembuatan tempat kerja dan pemilihan alat serta pengadaannya terkait keselamatan/keamanan.
8.      Membuat sistem pelaporan kejadian dan tindak lanjutnya.
9.      Pembinaan dan pengawasan Manajemen Sistem Penanggulangan Kebakaran (MSPK).
10.  Membuat evaluasi, pencatatan dan pelaporan kegiatan pelayanan keselamatan kerja yang disampaikan kepada Direktur Rumah Sakit dan Unit teknis terkait di wilayah kerja Rumah Sakit.

Manajemen Resiko Kesehatan 5

Manajemen resiko kesehatan merupakan merupakan konsep perbaikan berkelanjutan yang terdiri dari 5 langkah yaitu :

1.      Identifikasi bahaya kesehatan kerja
Kegiatan identifikasi bahaya kesehatan kerja meliputi :
a.       Identifikasi jenis bahaya (fisik, kimia, biologik, ergonomi, psikososial).
b.      Identifikasi Sumber bahaya (bahan baku, proses kerja, mesin & alat kerja, produk, limbah dan lain-lain).
c.       Mendapatkan Informasi tentang risiko bahaya dari Material Safety Data Sheet (MSDS), Log chemical, referensi lain.
d.      Identifikasi populasi yg berisiko terpajan (karyawan, pasien, pengunjung, dan lain-lain).
e.       Membuat list prioritas bahaya berdasarkan tingkat risiko.
f.       Membuat program pengukuran kadar/konsentrasi/potensi bahaya sesuai list prioritas.
g.      Melaksanakan pengukuran kadar/konsentrasi bahaya sesuai program.

2.      Menilai resiko dan seleksi
Penilaian risiko adalah proses untuk menentukan prioritas pengendalian terhadap tingkat risiko PAK. Nilai Risiko ditentukan oleh hubungan antara nilai hasil identifikasi bahaya (paparan(E) dan peluang(L) dan konsekuensi (K).
Nilai Risiko = E x L x K
Tingkat risiko digambarkan melalui matriks ranking yang dapat membantu mengidentifikasi prioritas tindakan yang akan dilakukan terhadap setiap risiko. Nilai risiko dapat dilihat pada tabel 1.

risiko kerja
  


3.      Menetapkan program pengendalian.
4.      Pelaksanaan program pengendalian.
5.      Monitoring dan evaluasi.

DAFTAR PUSTAKA

(1)   Buletin Integrasi Disnakertransduk Jawa Tengah, Edisi Bulan Januari 2008
(2)   Departemen Kesehatan RI, Standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit (K3RS), Jakarta, 2009.
(3)   Undang – undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
(4)   Undang – undang nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
(5)   Tresnaningsih, Erna, Materi Kuliah K3RS di Stikes Hang Tuah, Pekanbaru, 2011