sambutan

selamat datang sahabat.....

Jumat, 30 Agustus 2013

TEGA

Aku menatap heran mata laki-laki di hadapanku. Tapi dia kembali mengulangi permintaannya. “Tolong Dok, lepaskan semua alat bantu ini. Saya udah ikhlas melepaskan dia pergi. Dia udah sering sakit. Enam bulan yang lalu selama satu minggu dia gak sadar. Cuma saya dan ibunya yang ada disini sekarang. Saya dari awal sudah tidak setuju untuk dibawa ke rumah sakit, tapi ibunya memaksa. Sekarang kondisinya begini. Tolong lepaskan semua alat bantu ini.” 

Aku berpandangan dengan perawat. Akhirnya setelah menjelaskan kondisi istrinya dan si suami tetap memaksa melepaskan semua alat bantu, saya meminta dia menandatangani dokumen penolakan tindakan. Si suami menyetujui. Bagaimanapun, dalam kondisi pasien tidak kompeten dalam memberi persetujuan  atau menolak tindakan medis maka yang menyetujui atau menolak tindakan medis adalah keluarga terdekat.  
Aku menuju ruang jaga perawat dan meminta mereka menyiapkan semua dokumen setelah itu melepaskan alat bantu medis. Aku termenung di ruang jaga perawat. Kenapa bisa si suami menolak semua upaya yang kami lakukan untuk membantu istrinya? Padahal kondisi istrinya masih bisa ditolong. Si ibu gak bisa aku minta pendapatnya karena dia menangis histeris. Sementara si pasien tidak mungkin diminta pendapatnya karena kesadarannya menurun. Tidak ada keluarga lain yang mendampingi pada malam ini. Si suami minta lepaskan semua alat bantu medis tapi tidak membawanya pulang dari RS.
Ini kali kedua aku menghadapi kasus seperti ini. Orang yang putus asa merawat dan membantu keluarganya. Biasanya keluarga pasien meminta kami melakukan semua hal untuk dapat menyelamatkan keluarganya. Tapi ini beda.
Kenapa si suami menginginkan istrinya meninggal? Hanya karena sakit? Apakah karena dia gak mampu bayar lagi karena ini RS swasta? Tapi kenapa tidak meminta pulang sekalian? Tapi aku yakin istrinya gak akan meninggal malam ini walaupun tanpa alat bantu medis. Aku yakin Allah tidak akan membiarkan perempuan ini sendirian. Allah pasti menjaganya. Aku yakin ada banyak orang yang mendoakan pasien ini walau jasad mereka tidak berada di sampingnya. Allah tidak pernah tidur.  
Ternyata keyakinanku benar, besok paginya kulihat pasien itu masih hidup. Hidup dan mati itu merupakan ketetapan Allah. Tidak ada yang dapat memajukan atau memundurkan waktunya. Dokter hanya berusaha untuk mengembalikan fungsi tubuh dan mengurangi penderitaan pasien. Namun tentang kematian, hanya Allah yang berhak memutuskan. 
***