sambutan

selamat datang sahabat.....

Jumat, 30 Agustus 2013

Di Ujung Nafas


Hari-hari dalam hidupku sering bertemu kematian. Sejak awal aku berkecimpung dengan profesi ini, entah kenapa aku sangat sering menghadapi kematian. Ada beberapa proses kematian yang berkesan bagiku. 

Pada suatu sore yang sibuk aku menerima pasien kecelakaan lalu lintas. Seorang laki-laki muda kecelakaan sepeda motor dengan kondisi tidak sadar dan meracau. Setelah memberi pertolongan dan tindakan yang semestinya dilakukan serta mengkonsulkannya kepada dokter spesialis, aku mengawasi pasien tersebut secara periodik. Saat mendengar ceracaunya, aku terharu. Dia berceramah dan membaca Al Quran keras-keras. Ingatan bawah sadarnya dipenuhi kebaikan. Alhamdulillah…
Pada kesempatan lain aku menerima pasien kecelakaan lalu lintas yang tidak sadar dan meracau, seorang laki-laki muda. Namun kali ini pengalamanku sangat tidak menbahagiakan hati. Ceracau pasien ini membuatku ingin berada jauh darinya, meskipun itu tak mungkin kulakukan karena aku harus menolongnya. Pikiranku mengawan, begitu sikap di akhir nafas, keluarganya dengan wajah malu hanya terdiam. Dimanakah kita sembunyikan malu saat di hadapan Allah?
Suatu malam aku menerima pasien laki-laki tua dengan kondisi telah buruk, penurunan kesadaran. Keluarganya menangis karena menyadari pasien ini menjelang sakarat. Saat memberi pasien ini pertolongan, aku agak terkejut melihat sesuatu yang tidak biasa. Gerakan tangannya berulang-ulang seperti memegang rokok di bibirnya. Tidak ada gerakan yang lain. Menurut keluarganya, laki-laki ini memang pencandu rokok. Di akhir hayatnya, hanya rokok yang ada di pikirannya. Aku tercenung, benarkah rokok telah menjadi tuhan baru bagi sebagian orang? Seusai menolong pasien ini aku teringat pada temanku yang perokok berat. Aku menelfonnya dan bercerita kasus yang aku hadapi. Aku berharap dia menghentikan kebiasaannya merokok agar rokok tak menguasai hidupnya.
Menyaksikan gerakan tangan pasien perokok ini, aku menjadi ingat sebuah kisah kematian yang disampaikan padaku. Kematian seorang pejudi. Di akhir hayatnya yang dilakukannya adalah gerakan tangannya seperti sedang berjudi. Keluarga dan teman-temannya tentu sedih menyaksikan peristiwa tersebut. Kejadian tersebut menjadi pelajaran bagi kita agar menjemput kematian dengan kebaikan.
Kematian yang baik telah disampaikan padaku yang membuatku sangat terharu. Kematian seorang laki-laki muda. Teman yang mendampingi kematian seorang pemuda bercerita bahwa saat pemuda ini sakarat dia mengatakan bahwa dia melihat gadis-gadis cantik ramai di atas televisi, berjilbab putih. Tersenyum padanya dan memanggil-manggilnya mengajak pergi. Semua yang mendampingi pemuda ini tak melihat yang dikatakan si pemuda. Tapi sang pemuda membalas senyum rombongan gadis yang dia katakan. Sehingga abangnya menyuruh pemuda itu menutup matanya. "Tutup matanya Bang?", tanya si pemuda. "Iya, tutup aja matanya." kata si abang sambil menutup mata adiknya. Si pemuda pun menutup mata dan pergi menemui Tuhannya. Keluarganya kaget menyadari bahwa si pemuda sudah tak bernafas lagi. Ibunya menangis melepaskan kepergian putra kesayangannya. Aku termenung. Apa istimewa pemuda ini sehingga dia dijemput bidadari? Aku mengenal baik pemuda ini. Dia bukan aktivis mesjid, padahal rumahnya di samping mesjid. Bahkan ada yang berkata saat pemuda ini dirawat: "Aku gak pernah melihatnya ke mesjid. Entah dia shalat atau tidak." Tidak ada yang istimewa dalam hidupnya. Lalu kenapa dia dijemput bidadari? Kenapa gerimis mengiringi pemakamannya? Hanya satu hal yang kutau menjadi kelebihannya. Yaitu dia anak yang berbakti pada ibunya. Dia selalu menjaga ibunya. Dia pernah bekerja di kota lain, tapi akhirnya berhenti bekerja karena ibunya gak tahan berpisah dengannya. Dia kembali ke rumah ibunya dengan resiko sulit mendapat pekerjaan. Dia tak pernah melukai hati ibunya. Hari-hari dia dirawat dia selalu menanyakan keadaan ibunya. Padahal kondisinya sangat mencemaskan, dia justru mencemaskan ibunya. Setelah kepergiannya, kerabat dan orang yang mengenalnya mendapat pelajaran: ternyata benar surga di bawah telapak kaki ibu.
Apa yang telah kupersiapkan untuk menjemput kematian? Pikiranku mengawan tanya…