sambutan

selamat datang sahabat.....

Minggu, 26 Mei 2013

Jaminan Kesehatan Nasional (INA-Medicare)

         Menurut Undang-undang nomor 40 tahun 2004, Sistem Jaminan Sosial Nasional adalah suatu tata cara penyelenggaraan program jaminan sosial oleh beberapa badan penyelenggaraan jaminan sosial. Sistem Jaminan Sosial Nasional diselenggarakan berdasarkan asas kemanusiaan, asas manfaat, dan asas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sistem Jaminan Sosial Nasional bertujuan untuk memberikan jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap peserta dan/atau anggota keluarganya. (1)


Sistem Jaminan Sosial Nasional diselenggarakan berdasarkan pada prinsip: (1)
a.       kegotong-royongan;
b.      nirlaba;
c.       keterbukaan;
d.      kehati-hatian;
e.      akuntabilitas;
f.       portabilitas;
g.      kepesertaan bersifat wajib;
h.     dan amanat, dan hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan program dan untuk sebesar-besar kepentingan peserta.

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dibentuk berdasarkan Undang-undang nomor 24 tahun 2011. BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial.  BPJS menyelenggarakan sistem jaminan sosial nasional berdasarkan asas: (2)
a.       kemanusiaan;
b.      manfaat; dan
c.       keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

BPJS bertujuan untuk mewujudkan terselenggaranya pemberian jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap Peserta dan/atau anggota keluarganya. BPJS menyelenggarakan sistem jaminan sosial nasional berdasarkan prinsip: (2)
a.       kegotongroyongan;
b.      nirlaba;
c.       keterbukaan;
d.       kehati-hatian;
e.       akuntabilitas;
f.        portabilitas;
g.       kepesertaan bersifat wajib;
h.      dana amanat; dan
i.        hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial dipergunakan seluruhnya untuk  pengembangan   
       program dan untuk sebesar-besar kepentingan Peserta.

BPJS terbagi 2 yaitu: (2)
a.      BPJS Kesehatan, menyelenggarakan program jaminan kesehatan
b.      BPJS Ketenagakerjaan, menyelenggarakan program:
1.      jaminan kecelakaan kerja;
2.      jaminan hari tua;
3.      jaminan pensiun; dan
4.      jaminan kematian.

BPJS bertugas untuk: (2)
a.       Melakukan dan/atau menerima pendaftaran Peserta;
b.       Memungut dan mengumpulkan Iuran dari Peserta dan Pemberi Kerja;
c.       Menerima Bantuan Iuran dari Pemerintah;
d.       Mengelola Dana Jaminan Sosial untuk kepentingan Peserta;
e.       Mengumpulkan dan mengelola data Peserta program Jaminan Sosial;
f.        Membayarkan Manfaat dan/atau membiayai pelayanan kesehatan sesuai dengan 
       ketentuan program Jaminan Sosial; dan
g.       Memberikan informasi mengenai penyelenggaraan program Jaminan Sosial kepada 
       Peserta dan masyarakat.

BPJS berwenang untuk: (2)
a.     Menagih pembayaran Iuran;
b.     Menempatkan Dana Jaminan Sosial untuk investasi jangka pendek dan jangka panjang 
      dengan mempertimbangkan aspek likuiditas, solvabilitas, kehati-hatian, keamanan dana, 
      dan hasil yang memadai;
c.      Melakukan pengawasan dan pemeriksaan atas kepatuhan Peserta dan Pemberi Kerja 
      dalam memenuhi kewajibannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan 
      jaminan sosial nasional;
d.     Membuat kesepakatan dengan fasilitas kesehatan mengenai besar pembayaran fasilitas 
      kesehatan yang mengacu pada standar tarif yang ditetapkan oleh Pemerintah;
e.      Membuat atau menghentikan kontrak kerja dengan fasilitas kesehatan;
f.      Mengenakan sanksi administratif kepada Peserta atau Pemberi Kerja yang tidak 
      memenuhi kewajibannya;
g.      Melaporkan Pemberi Kerja kepada instansi yang berwenang mengenai 
      ketidakpatuhannya dalam membayar Iuran atau dalam memenuhi kewajiban lain sesuai 
      dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
h.     Melakukan kerja sama dengan pihak lain dalam rangka penyelenggaraan program 
      Jaminan Sosial.

Untuk melaksanakan Undang-Undang No 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan UU No 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) diperlukan sinergi dari berbagai peta jalan yang telah disusun oleh Kementerian Kesehatan, DJSN, PT Askes Indonesia, dan PT Jamsostek, serta masukan dari berbagai pemangku kepentingan lainnya. Untuk itu, disusun Peta Jalan (roadmap) Menuju Jaminan Kesehatan Nasional ini sebagai acuan bagi semua pemangku kepentingan. (3)

Secara khusus peta jalan ini disusun untuk mempersiapkan beroperasinya BPJS Kesehatan pada tanggal 1 Januari 2014 dan tercapainya Jaminan Kesehatan Nasional (INA-Medicare) untuk seluruh penduduk Indonesia pada Tahun 2019. Untuk mencapai tujuan khusus tersebut, disepakati 8 sasaran pokok yang akan dicapai pada tahun 2014 yaitu:
(1)      Tersusunnya seluruh peraturan pelaksanaan yang diperlukan.
(2)      Beroperasinya BPJS Kesehatan sesuai UU 24/2011.
(3)      Paling sedikit 121,6 juta penduduk dijamin melalui BPJS Kesehatan.
        Jumlah peserta 121,6 juta jiwa diasumsikan berasal dari 96,4 juta jiwa dari program 
        Jamkesmas, 17,2 juta jiwa dari peserta Askes PNS, 5,5 juta jiwa dari peserta JPK 
        Jamsostek dan 2,5 juta jiwa dari peserta PJKMU.
(4)      Manfaat medis Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS sama untuk  
        seluruh peserta sedangkan untuk manfaat non medis masih ada perbedaan.
(5)      Disusunnya rencana aksi pengembangan fasilitas kesehatan dan implementasinya 
        secara bertahap.
(6)      Paling sedikit 75% peserta puas dengan layanan BPJS Kesehatan.
(7)      Paling sedikit 75% fasilitas kesehatan puas dengan layanan BPJS Kesehatan.
(8)      Pengelolaan keuangan BPJS Kesehatan terlaksana secara transparan, efisien, dan 
        akuntabel.

Di tahun 2019, peta jalan menetapkan 8 (delapan) sasaran berikut:
(1)      BPJS Kesehatan telah mendapat kepercayaan penuh publik.
(2)      Seluruh penduduk (diperkirakan 257,5 juta jiwa) telah terjamin.
(3)      Paket manfaat medis dan non medis sudah sama untuk seluruh peserta.
(4)      Fasilitas kesehatan telah tersebar memadai.
(5)      Peraturan perundangan disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan waktu itu.
(6)      Paling sedikit 85% peserta puas dengan pelayanan yang diterima dari fasilitas 
        kesehatan dan BPJS Kesehatan.  
(7)      Paling sedikit 80% fasilitas kesehatan puas dengan pelayanan yang diterima dari BPJS 
        Kesehatan.
(8)      Pengelolaan keuangan BPJS Kesehatan sudah mencapai tingkat transparansi, efisiensi 
        dan akuntabilitas optimal.

Untuk mencapai Delapan Sasaran Pokok tersebut telah disusun kegiatan-kegiatan pokok berikut: Paling lambat pertengahan 1 Juni 2013 telah diterbitkan:
(1)   Peraturan Presiden tentang Jaminan Kesehatan.
(2)   Peraturan Pemerintah tentang PBI.
(3)   Peraturan Presiden tentang Dukungan Operasional Kesehatan untuk TNI/Polri
(4)   Peraturan Pemerintah tentang BPJS (Gabungan BPJS Kesehatan dan BPJS 
      Ketenagakerjaan).
(5)   PP Pengelolaan Dana Jaminan Sosial.
(6)   PP tetang Modal Awal BPJS.
(7)   Peraturan Presiden tentang Tata Cara Pemilihan dan Penetapan Dewan Pengawas dan 
      Direksi BPJS.
(8)   Peraturan Presiden tentang Renumerasi Dewan Pengawas dan Direksi BPJS.
(9)   Keputusan Presiden tentang Dewan Komisaris dan Dewan Direksi BPJS Kesehatan.

Perluasan kepesertaan dilakukan dimulai dengan menyatukan pengelolaan peserta Askes Sosial/ PNS (yang kini dikelola oleh PT Askes), pengalihan pengelolaan Jamkesmas dari Kemenkes sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI), pengalihan peserta JPK Jamsostek, dan pengalihan jaminan kesehatan dari TNI/POLRI, serta sebagian peserta Jamkesda. Ditargetkan sekitar 121,6 juta jiwa dijamin oleh BPJS Kesehatan di Tahun 2014. Pada prinsipnya seluruh pemberi kerja wajib mendaftarkan pekerjanya kepada BPJS Kesehatan. Namun pemberi kerja yang kini telah menyediakan jaminan kesehatan bagi pekerjanya secara mandiri diberikan kelonggaran untuk bergabung paling lambat hingga awal tahun 2019 (wait and see first) agar seluruh pekerja terlindungi seluruhnya melalui BPJS Kesehatan.

Sebagaimana diatur dalam UU SJSN, paket manfaat (layanan kesehatan yang dijamin) sejak awal akan dimulai dengan paket komprehensif. Prinsip koprehensif artinya adalah bahwa semua pengobatan untuk penyakit yang terjadi secara alamiah akan dijamin, sedangkan penyakit yang ditimbulkan akibat kesengajaan seperti akibat penggunaan NAPZA atau yang bersifat kosmetika tidak dijamin. Jaminan juga mencakup alat sampai besaran tertentu seperti kaca mata atau alat bantu gerak. Agar lebih berkeadilan, mereka yang iurannya dibayarkan Pemerintah berhak mendapatan perrawatan di kelas III. Sedangkan mereka yang membayar iuran akan mendapat perawatan di kelas II atau kelas I, tergantung besarnya iuran. Paket manfaat tersebut di atas juga untuk memenuhi prinsip perlindungan rakyat agar tidak jatuh miskin jika terkena musibah penyakit berat dengan biaya yang besar.

Perluasan dan tingkat perlindungan (protektabilitas) haruslah dibarengi dengan iuran yang memadai. Masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan jika iuran terlalu tinggi, sebab BPJS secara hukum adalah badan nirlaba. Dalam hal ini, pemegang saham BPJS adalah seluruh peserta, karenanya setiap surplus akan digunakan untuk perbaikan paket manfaat seluruh peserta. Untuk tahap awal, iuran telah diperhitungkan berkisar pada 5-6% gaji sebulan atau penetapan nilai nominal. Sedangkan untuk PBI, setelah dihitung berdasarkan berbagai kajian, kebutuhan iuran tahap awal adalah sebesar Rp 22.000– Rp 27.000 per orang per bulan. Batas atas upah penetapan iuran dan besaran iuran akan disesuaikan paling lama setiap dua tahun. Untuk menjamin BPJS tidak defisit atau menumpuk surplus terlalu besar, dalam jangka panjang perlu dilakukan keseimbangan antara pemasukan dana iuran dan belanja kesehatan, serta ketersediaan dana cadangan.

Dari sisi pelayanan kesehatan, telah diidentifikasikan tingkat ketersediaan dan sejumlah masalah yang masih menghambat pelaksanaan jaminan kesehatan nasional. Saat ini, tersedia lebih dari 85.000 dokter praktik umum dan lebih dari 25.000 dokter praktik spesialis, belum termasuk dokter gigi. Secara nasional,  jumlah tersebut cukup untuk melayani seluruh rakyat berdasarkan rasio satu dokter praktik umum melayani 3.000 orang. Pelayanan kesehatan saat ini juga didukung oleh jumlah perawat dan bidan yang jumlahnya telah mencukupi, dan tempat tidur di rumah sakit milik Pemerintah dan milik swasta, termasuk tempat tidur di puskesmas yang rasionya telah mendekati satu tempat tidur untuk setiap 1.000 penduduk. Namun demikian, ketersediaan layanan kesehatan tersebut terkendala oleh penyebarannya yang jauh lebih banyak di kota-kota besar. Pada pelaksanaan  cakupan kesehatan semesta di berbagai negara lainnya hal serupa umum terjadi. Hal itu dapat diselesaikan antara lain jika pembayaran BPJS ke fasilitas kesehatan diperbaiki dengan mempertimbangkan harga keekonomian agar terjadi redistribusi dokter ke daerah-daerah yang membutuhkan dan semakin banyak pihak swasta yang akan membangun fasilitas kesehatan.

Layanan kesehatan juga mencakup obat dan bahan medis habis pakai yang seyogyanya mengikuti mekanisme pasar. Saat ini, jumlah pabrik obat di Indonesia jumlahnya jauh melebihi kebutuhan. Sementara itu, produksi bahan medis habis pakai juga mudah untuk ditingkatkan produksinya. Penentuan besaran pembayaran iuran BPJS menjadi faktor kunci agar dokter dan fasilitas kesehatan, termasuk obat dan bahan medis habis pakai dibayar dengan harga keekonomian yang layak, dan terjadi keseimbangan yang memadai antara pemintaan dan penyediaan obat dan bahan medis habis pakai. Untuk itu, pelaksanaan BPJS perlu dipantau agar dapat tercapai tingkat keouasan 80% dari fasilitas kesehatan.

Selain hal tersebut di atas, untuk mendukung kepesertaan menyeluruh Jaminan Kesehatan Nasional perlu dilakukan Peningkatan Ketersediaan dan Kualitas Fasilitas Kesehatan serta penyusunan Sistem/ Standar Operasional Pelayanan. Untuk itu, Kementerian Kesehatan perlu menyusun Rencana Aksi Pengembangan pelayanan kesehatan termasuk fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, alat, obat, bahan medis habis pakai, dan kelengkapan lainnya yang pelaksanaanya dapat dilakukan secara bertahap.

Untuk menjamin bahwa layanan dokter dan rumah sakit berkualitas, BPJS juga akan mengembangkan seleksi (kredensialing) dokter dan fasilitas kesehatan yang dikontrak. Fasilitas yang tidak memenuhi standar tidak akan dikontrak atau diperpanjang kontraknya.Diharapkan pada tahun 2019 seluruh fasilitas kesehatan akan memenuhi standar yang berlaku agar kepuasan peserta terpenuhi. Karena peserta diberikan kebebasan memilih dokter/fasilitas kesehatan yang akan melayaninya, maka seluruh fasilitas kesehatan akan bersaing memberikan layanan yang berkualitas dan memuaskan. Dengan mengembangkan sistem dan pemantauan kepuasan peserta, pada tahun 2019 diharapkan 85% peserta puas terhadap layanan kesehatan berkualitas.

Disadari bahwa saat ini banyak keraguan dan ketidak-percayaan publik akan efektivitas pelaksanaan BPJS. Meskipun selama hampir 20 tahun hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap PT Askes selalu Wajar Tanpa Pengecualian, namun di lapangan masih terjadi penyimpangan. Oleh karenanya, langkah pertama yang disiapkan adalah peraturan pelaksanaan yang menjamin transparansi dan akuntabilitas BPJS. Lebih lanjut, BPJS harus membayar fasilitas kesehatan dengan harga keekonomian yang kompetitif dan efisien, BPJS tidak boleh menghabiskan biaya operasionalnya melebihi 5% dari total iuran yang diterima. Secara bertahap, kinerja pengelolaan BPJS akan terus diperkuat hingga dapat menekan biaya operasional kurang dari 5% dari iuran yang diterima sebagaimana BPJS serupa di negara-negara lain. Dengan prinsip ini, lebih dari 95% dana iuran yang terkumpul akan kembali kepada peserta dalam bentuk layanan kesehatan yang berkualitas.

Untuk menghindari moral hazard, maka fasilitas kesehatan akan dibayar secara prospektif, khususnya dengan cara kapitasi dan CBG (Casemix Based Group). Kedua cara pembayaran tersebut adalah cara pembayaran borongan yang memaksa dokter dan rumah sakit efisien namun tetap menjaga kualitas layanannya. Dokter dan rumah sakit di suatu wilayah yang memiliki indeks harga/indeks kemahalan yang sama akan dibayar sama. Dengan demikian persaingan sehat antara dokter dan rumah sakit terjadi berdasarkankualitas layanan, bukan tarif.

Mengingat manajemen JKN dan pembayaran ke fasilitas kesehatanmerupakan suatu proses yang kompleks dan perkembangan obat atau teknologi baru dalam bidang kesehatan, maka BPJS juga perlu menyisihkan 0,5% dari pendapatan iuran untuk biaya riset dan pengembangan. Teknologi atau obat baru yang cost-effective harus dijamin, sementara obat atau teknologi lama yang tidak lagi memadai harus dikeluarkan. Dengan begitu, peserta akan terus mendapatkan teknologi terbaru. Dengan demikian, JKN akan senantiasa memberi sumbangan berarti bagi produktifitas dan kualitas hidup peserta.

Pada akhirnya, kemajuan JKN akan sangat bergantung pada kepercayaan publik terhadap kinerja BPJS. Untuk menjamin pengelolaan yang efektif, efisientransparan dan akuntabilitas, BPJS akan diaudit oleh BPK dan akuntan publik. Secara internal, Dewan Pengawas dan DJSN akan terus memantau dan mengawasi segala aspek penyelenggaraan JKN oleh BPJS Kesehatan. Keluhan peserta, dokter, fasilitas kesehatan lainnya harus juga selalu ditampung.Setiap pemangku kepentingan dapat menyampaikan keluhan atas layanan fasilitas kesehatan yang tidak memuaskan dan layanan BPJS atau praktik petugas BPJS yang tidak bersih melalui berbagai saluran pengaduan masyarakat hingga kepada Presiden. BPJS Kesehatan dengan monitoring dari DJSN harus menampung seluruh keluhan atau pengaduan yang ada dan mengkoordinasikan penanganannya. Laporan keuangan harus dipublikasi paling sedikit dua kali dalam setahun dalam berbagai media cetak dan elektronik agar bisa diperiksa, diawasi, dan dievaluasi oleh pemangku kepentingan, akademisi, pengawas korupsi, dan peneliti lainnya.

Dampak fiskal JKN diharapkan akan positif sejalan dengan meningkatnya kesadaran penduduk untuk membayar pajak dan iuran. Hal ini terjadi di negara-negara yang telah lebih dahulu menyelenggarakan JKN dengan cakupan semesta. Apabila hal-hal di atas dapat terlaksana dengan baik, maka kebrangkutan negara akibat JKN tidak akan terjadi. Selama ini Indonesia baru menganggarkan sekitar 2,5% Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kesehatan. Setelah BPJS berjalan, diperkirakan belanja kesehatan Indonesia akan meningkat bertahap mulai pada kisaran 4% PDB. Dari jumlah tersebut, beban PBI diperkirakan tidak lebih dari 1% PDB.

Persiapan proses transformasi PT Askes paling tidak sampai Desember 2013 harus telah selesai. Selama proses transisi akan dibentuk Project Management Office yang terdiri atas unsur PT Askes, Kementerian Kesehatan, dan PT Jamsostek untuk melancarkan proses pemindahan pengelolaan peserta Jamkesmas dan JPK Jamsostek. Prinsip pengelolaan yang baik (good corporate government) menjadi kunci keberhasilan transformasi. Hal ini dalam dicapai melalui penyusunan AD/ART, atribut organisasi, serta sistem operasi dan prosedur (SOP), pelatihan dan pengembangan SDM BPJS, penyiapan laporan keuangan penutupan PT Askes dan akun BPJS awal, penyusunan sistem informasi dengan menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) peserta, dan sistem akuntansi khusus BPJS.

Sebagaimana diatur dalam UU BPJS, Direksi dan Komisaris PT Askes akan mengemban menjadi Direksi dan Dewan Pengawas BPJS untuk masa dua tahun. Karena masa jabatan Direksi dan Dewan Komisaris PT Askes akan segera berakhir, maka penggantian Dewan Direksi dan Komisaris PT Askes yang nantinya sebagai pengelola BPJS diharapkan terdiri dari orang-orang yang memahami dan berkomitmen menjalankan BPJS sebaik-baiknya. Dalam rangka proses transformasi tersebut, PT Askes dan koordinasi dengan berbagai kementrian terkait lainnya, DJSN serta asosiasi profesi/organisasi fasilitas kesehatan perlu melakukan sosialisasi intensif kepada publik.

Sosialisasi merupakan kunci keberhasilan pelaksanaan JKN mengingat tingkat kepesertaan jaminan kesehatan saat ini relatif rendah. Sosialisasi yang baik akan memberikan pemahaman dan kesadaran kepada peserta dan pemberi kerja akan hak dan kewajibannya. Dengan pemasaran yang memadai, kepesertaan JKN yang berbasis asuransi sosial ini dapat mencapai target yang diharapkan dan pemberi kerja dapat mendapatkan manfaat yang besar pula dari terlindunginya kesehatan para pekerja. Sosialisasi diperlukan tidak hanya dari kepesertaan, namun juga untuk mendapatkan dukungan dari berbagai pihak yang terkait untuk peningkatan kualitas layanan kesehatan baik di pusat, daerah, swasta, maupun unsur masyarakat lainnya.Untuk mencapai tujuan yang dirumuskan dalam dokumen ini maka perlu dilakukan sejumlah kegiatan oleh berbagai pihak sebagaimana tertera pada tabel berikut. (3)
















Daftar bacaan:
1.      Undang-undang nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.
2.      Undang-undang nomor 24 tahun 2011 Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.  
3.      Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (2012). Peta Jalan Menuju Jaminan Kesehatan Nasional 2012 – 2019. Jakarta.