sambutan

selamat datang sahabat.....

Selasa, 22 Januari 2013

Perbandingan Komite Medik Rumah Sakit versi 2005 dengan versi 2011


Konsep profesionalisme staf medis didasarkan pada kontrak sosial antara profesi medis dengan masyarakat. Di satu pihak, profesi medis sepakat untuk memproteksi masyarakat dengan melakukan penapisan (kredensial) terhadap staf medis yang akan menjalankan praktik dalam masyarakat. Hanya staf medis yang baik (kredibel) sajalah yang diperkenankan melakukan pelayanan pada masyarakat, hal ini dilakukan melalui mekanisme perizinan (licensing). Sedangkan staf medis yang belum memenuhi syarat, dapat menjalani proses pembinaan (proctoring) agar memiliki kompetensi yang diperlukan sehingga dapat diperkenankan melakukan pelayanan pada masyarakat setelah melalui kredensial. Di lain pihak, kelompok profesi staf medis memperoleh hak istimewa (privilege) untuk melakukan praktik kedokteran secara eksklusif, dan tidak boleh ada pihak lain yang melakukan hal tersebut. Dengan hak istimewa tersebut para staf medis dapat memperoleh manfaat ekonomis dan prestise profesi. Namun demikian, bila ada staf medis yang melakukan pelanggaran standar profesi maka dapat dilakukan tindakan disiplin profesi. Tindakan disiplin ini berbentuk penangguhan hak istimewa tersebut (suspension of clinical privilege) agar masyarakat terhindar dari praktisi medis yang tidak profesional.

Komite medik memegang peran utama dalam menegakkan profesionalisme staf medis yang bekerja di rumah sakit. Peran tersebut meliputi rekomendasi pemberian izin melakukan pelayanan medis di rumah sakit (clinical appointment) termasuk rinciannya (delineation of clinical privilege), memelihara kompetensi dan etika profesi, serta menegakkan disiplin profesi. Untuk itu kepala/direktur rumah sakit berkewajiban agar komite medis senantiasa memiliki akses informasi terinci tentang masalah keprofesian setiap staf medis di rumah sakit.

Komite Medik menurut PERMENKES nomor 755/MENKES/PER/IV/2011 berbeda dengan KEPMENKES nomor 631/MENKES/SK/IV/2005. Perbedaannya dapat dilihat pada tabel berikut:

No
Topik
Komite Medik Rumah Sakit Menurut
KEPMENKES NOMOR 631/MENKES/SK/IV/2005
Komite Medik Rumah Sakit Menurut
PERMENKES NOMOR 755/MENKES/PER/IV/2011
1
Penamaan dan Definisi Komite Medik
Nama: Komite Medis
Komite Medis adalah wadah profesional medis yang keanggotaanya berasal dari Ketua Kelompok Staf Medis dan atau yang mewakili.









.
Nama: Komite Medik
Komite medik adalah perangkat rumah sakit untuk menerapkan tata kelola klinis (clinical governance) agar staf medis dirumah sakit terjaga profesionalismenya melalui mekanisme kredensial, penjagaan mutu profesi medis, dan pemeliharaan etika dan disiplin profesi medis.

Komite medik merupakan organisasi non struktural yang dibentuk di rumah sakit oleh kepala/direktur dan bukan merupakan wadah perwakilan dari staf medis.  

Komite medik di rumah sakit dapat dianalogikan dengan konsil kedokteran pada tataran nasional.

Komite medik bukan merupakan kumpulan atau himpunan kelompok staf medis fungsional/departemen klinik sebuah rumah sakit.
Para staf medis yang tergabung dalam kelompok staf medis fungsional/departemen klinik diorganisasi oleh kepala/direktur rumah sakit.
2
Tugas dan Fungsi Komite Medik
Fungsi Komite Medis adalah sebagai pengarah (stering) dalam pemberian pelayanan medis sedangkan staf medis adalah pelaksana pelayanan medis.

Fungsi komite medis secara rinci sebagai berikut :

a.    Memberikan saran kepada Direktur RS/Direktur Medis.
b.   Mengkoordinasikan dan mengarahkan kegiatan pelayanan medis.
c.    Menangani hal-hal yang berkaitan dengan etik kedokteran, karena itu dibawah Komite Medik perlu dibentuk Sub Komite Etik. (Untuk menangani masalah etik dalam bidang lain sebaiknya rumah sakit membentuk Komite Etik tersendiri di luar Komite Medis).
d.   Menyusun kebijakan pelayanan medis sebagai standar yang harus dilaksanakan oleh semua kelompok staf medis di rumah sakit.

Tugas Komite Medis:
a.    Membantu Direktur rumah sakit menyusun standar pelayanan medis dan memantau pelaksanaannya.
b.   Melaksanakan pembinaan etika profesi, disiplin profesi dan mutu profesi.
c.    Mengatur kewenangan profesi antar kelompok staf medis.
d.   Membantu Direktur rumah sakit menyusun medical staff bylaws dan memantau pelaksanaannya.
e.    Membantu Direktur rumah sakit menyusun kebijakan dan prosedur yang terkait dengan mediko-legal.
f.     Membantu Direktur rumah sakit menyusun kebijakan dan prosedur yang terkait dengan etiko-legal.
g.    Melakukan koordinasi dengan Direktur Medis dalam melaksanakan pemantauan dan pembinaan pelaksanaan tugas kelompok staf medis.
h.   Meningkatkan program pelayanan, pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan dalam bidang medis.
i.     Melakukan monitoring dan evaluasi mutu pelayanan medis antara lain melalui monitoring dan evaluasi kasus bedah, penggunaan obat (drug usage), farmasi dan terapi, ketepatan, kelengkapan dan keakuratan rekam medis, tissue review, mortalitas dan morbiditas, medical care review/peer review/audit medis melalui pembentukan sub komite-sub komite
j.     Memberikan laporan kegiatan kepada Direktur rumah sakit dan atau pemilik rumah sakit.
Komite medik dibentuk dengan tujuan untuk  menyelenggarakan tata kelola klinis (clinical governance) yang baik agar mutu pelayanan medis dan keselamatan pasien lebih terjamin dan terlindungi.

Tugas Komite medik:
a.    Menegakkan profesionalisme staf medis yang bekerja di rumah sakit;
b.   Melakukan kredensial bagi seluruh staf medis yang akan melakukan pelayanan medis di rumah sakit;
c.    Memelihara kompetensi dan etika para staf medis; dan
d.   Mengambil tindakan disiplin bagi staf medis.

Komite medik melaksanakan tugasnya melalui tiga hal utama yaitu:
1.   Rekomendasi pemberian izin untuk melakukan pelayanan medis (entering to the profession), dilakukan melalui subkomite kredensial;
2.   Memelihara kompetensi dan perilaku para staf medis yang telah memperoleh izin (maintaining professionalism), dilakukan oleh subkomite mutu profesi melalui audit medis dan pengembangan profesi berkelanjutan (continuing professional development);
3.   Rekomendasi penangguhan kewenangan klinis tertentu hingga pencabutan izin melakukan pelayanan medis (expelling from the profession), dilakukan melalui subkomite etika dan disiplin profesi.

Dengan demikian, tugas-tugas lain diluar tugas-tugas diatas yang terkait dengan pelayanan medis bukanlah menjadi tugas komite medik, tetapi menjadi tugas kepala/direktur rumah sakit dalam mengelola rumah
sakit.
Tugas lain seperti pengendalian infeksi nosokomial, rekam medis, dan sebagainya dilaksanakan oleh kepala/direktur rumah sakit, dan bukan oleh
komite medik.

Panitia lain dalam rangka tata kelola klinis yang baik seperti panitia infeksi nosokomial, panitia rekam medis, dan sebagainya perlu dikoordinasikan secara fungsional oleh sebuah komite tertentu yang bertanggung jawab pada kepala/direktur rumah sakit. Komite tertentu
tersebut berperan meningkatkan mutu rumah sakit yang tidak langsung berkaitan dengan profesi medis, sehingga perlu dibentuk secara tersendiri agar dapat melakukan tugasnya secara lebih terfokus.




3
Organisasi komite medik
Keanggotaan Komite Medik Keanggotaan Komite Medik berasal dari Ketua Kelompok Staf Medis dan atau yang mewakili. 

Susunan Komite Medis terdiri diri dari :
a. Ketua,
b. Wakil Ketua,
c. Sekretaris
d. Anggota

Ketua Komite Medis bisa dijabat oleh dokter purna waktu atau dokter paruh waktu yang dipilih secara demokratis oleh Ketua-ketua kelompok staf medis.

Surat Keputusan Pengangkatan Ketua Komite Medis tergantung posisi Komite Medis di dalam struktur organisasi rumah sakit. Komite Medis dibawah Direktur RS maka Surat Keputusan pengangkatan Ketua Komite Medis oleh Direktur RS, Komite Medis sejajar dengan Direktur RS maka surat keputusan pengangkatan Ketua Komite Medis oleh Pemilik RS.
Wakil Ketua Komite Medis bisa dijabat oleh dokter purna waktu atau dokter paruh waktu yang dipilih secara demokratis oleh Ketua-ketua kelompok staf medis.
Sekretaris Komite medis dipilih oleh Ketua Komite Medis dan dijabat oleh seorang dokter purna waktu.
Keanggotaan komite medik ditetapkan oleh kepala/direktur rumah sakit dengan mempertimbangkan sikap profesional, reputasi, dan perilaku.

Organisasi komite medik sekurang-kurangnya terdiri dari:
a.    ketua,
b.   sekretaris, dan
c.    anggota.

Ketua komite medik ditetapkan oleh kepala/direktur rumah sakit. Sekretaris dan anggota diusulkan oleh ketua komite medik dan ditetapkan oleh kepala/direktur rumah sakit. Dalam hal wakil ketua komite medik diperlukan maka wakil ketua diusulkan oleh ketua komite medik dan ditetapkan oleh kepala/direktur rumah sakit.

Jumlah personalia komite medis yang efektif berkisar sekitar lima sampai sembilan orang termasuk ketua dan sekretaris. Personalia tersebut dipilih dari staf medis yang memiliki reputasi baik dalam profesinya yang meliputi kompetensi, sikap, dan hubungan interpersonal yang baik.
Mekanisme pengambilan keputusan dibidang keprofesian dalam setiap kegiatan komite medis dilaksanakan secara sehat dengan memperhatikan asas–asas kolegialitas.
4
Subkomite
Dalam melaksanakan tugasnya Komite Medis dibantu oleh sub komite. Sub Komite dibentuk disesuaikan dengan kebutuhan rumah sakit.

Sub komite tersebut dapat terdiri dari :
1.   Sub Komite Peningkatan Mutu Profesi Medis
2.   Sub Komite Kredential
3.   Sub Komite Etika dan Disiplin Profesi
4.   Sub Komite lainnya yang dianggap perlu, antara lain Sub Komite/Komite farmasi dan terapi, Sub Komite/Komite rekam medis dan Sub Komite/Komite pengendalian infeksi nosokomial rumah sakit, Sub Komite Transfusi Darah, dan lain-lain. Posisi sub komite/komite tersebut diserahkan kepada masing-masing rumah sakit.

Susunan Sub Komite terdiri dari Ketua merangkap anggota, Sekretaris merangkap anggota dan  Anggota. Ketua Sub Komite dapat salah seorang Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris dan Anggota Komite Medis. Sub Komite ditetapkan oleh Direktur rumah sakit atas usul Ketua Komite Medis setelah mendapat kesepakatan dalam rapat pleno Komite Medis.
Dalam melaksanakan tugasnya komite medik dibantu oleh:
1.   subkomite kredensial,
2.   subkomite mutu profesi dan
3.   subkomite etika dan di siplin profesi.

Dalam hal terdapat keterbatasan jumlah staf medis, fungsi subkomite-subkomite ini dilaksanakan oleh komite medik. Ketua subkomite kredensial, subkomite mutu profesi, dan subkomite etika dan disiplin profesi diusulkan oleh ketua komite medik dan ditetapkan oleh kepala/direktur rumah sakit.

Wakil ketua, sekretaris, dan ketua-ketua subkomite direkomendasikan oleh ketua komite medik dan ditetapkan oleh kepala/direktur rumah sakit dengan memperhatikan masukan dari staf medis yang bekerja di rumah sakit.

Subkomite di rumah sakit terdiri atas sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang staf medis yang memiliki surat penugasan klinis (clinical appointment) di rumah sakit tersebut dan berasal dari disiplin ilmu yang berbeda.




5
Definisi Peraturan internal staf medis (medical staff bylaws)
Medical staff bylaws , Rules and Regulations adalah kerangka (framework) untuk pengaturan diri sendiri (self-governance) oleh staf medik yang dapat diterima secara umum. Kerangka itu menetapkan tugas, kewajiban, kewenangan, tanggung jawab, kelompok staf medis dan komite medis.
Peraturan internal staf medis (medical staff bylaws) adalah aturan yang mengatur tata kelola klinis (clinical governance) untuk menjaga profesionalisme staf medis di rumah sakit.
6
Tujuan Medical staff bylaws
Medical staff bylaws mempunyai tujuan sebagai berikut :
Umum : Sebagai pedoman bagi rumah sakit dalam meningkatkan mutu pelayanan
medis di rumah sakit.

Khusus
1.   Tercapainya kerjasama yang baik antara staf medis dengan pemilik rumah sakit atau yang mewakili dan antara staff medis dengan Direktur/ Pimpinan rumah sakit.
2.   Tercapainya sinergisme antara manajemen dan profesi medis untuk kepentingan pasien.
3.   Terciptanya tanggung jawab staf medis terhadap mutu pelayanan medis di rumah sakit.
Tujuan peraturan internal staf medis (medical staf bylaws) adalah agar komite medik dapat menyelenggarakan tata kelola klinis yang baik (good clinical governance) melalui mekanisme kredensial, peningkatan mutu profesi, dan penegakan disiplin profesi. Selain itu peraturan internal staf medis (medical staf bylaws) juga bertujuan untuk memberikan dasar hukum bagi mitra bestari (peer group) dalam pengambilan
keputusan profesi melalui komite medik.



7
Hubungan komite medik dengan pengelola rumah sakit
Di dalam struktur organisasi rumah sakit pemerintah, Komite Medis berada dibawah Direktur rumah sakit, sedangkan di dalam struktur organisasi rumah sakit swasta, Komite Medis bisa berada di bawah Direktur rumah sakit atau di bawah Pemilik dan sejajar dengan Direktur rumah sakit. Komite medis mempunyai otoritas tertinggi di dalam pengorganisasi staf medis.

Ketua komite medik bertanggung jawab kepada kepala/direktur rumah sakit. Kepala/direktur rumah sakit berkewajiban untuk menyediakan segala sumber daya agar komite medik dapat berfungsi dengan baik untuk menyelenggarakan profesionalisme staf medis.
Komite medik memberikan laporan tahunan dan laporan berkala tentang kegiatan keprofesian yang dilakukannya kepada kepala/direktur rumah sakit.




Sumber bacaan:
1.   Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 631/MENKES/SK/IV/2005 tentang Pedoman Peraturan Internal Staf Medis (Medical Staff Bylaws) di Rumah Sakit.
2.   Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 755/MENKES/PER/IV/2011 tentang Penyelenggaraan Komite Medik di Rumah Sakit.