sambutan

selamat datang sahabat.....

Senin, 07 Januari 2013

Mimpi Remaja


Sore yang cerah saat aku berbincang dengan seorang teman. Topik lama yang tak pernah kunjung usai. Keluhan tentang kesulitan hidup yang tidak sesuai harapan. Memiliki suami yang tidak seperti di negeri impian. Sebuah mimpi gadis remaja yang tidak pernah terjadi, hidup bahagia bersama pujaan hati di tempat mewah yang nyaman. Kenapa mimpi hanya menjadi mimpi? Kenapa mimpi tak pernah merona dalam kenyataan hidup? Apakah kita telah salah merajut mimpi di saat muda belia?

Kita belajar mimpi negeri dongeng melalui komik putri di negeri antah berantah yang ditemukan pangeran dari negeri atas angin, lalu mereka hidup bahagia di istana dengan kendaraan kereta kuda. Mimpi yang dirajut dan dikuatkan sejak balita dengan cerita sebelum tidur, dilanjutkan saat usia sekolah dasar dengan bacaan komik negeri dongeng. Mimpi yang tertanam sangat kuat di dasar ingatan, karena dikuatkan dari waktu ke waktu.
Saat ini remaja belajar mimpi negeri dongeng jauh lebih banyak dibanding saat perempuan seusiaku dulu remaja. Bila dulu hanya mendengar dan membaca dongeng, saat ini dongeng ditonton sejak bangun tidur sampai tidur kembali. Kemudian dongeng terbawa ke alam mimpi. Begitukah kita mempersiapkan putri remaja menghadapi hidup? Menanamkan harapan bahwa suatu saat ada lelaki tampan yang mempersuntingnya untuk hidup bahagia di sebuah rumah mewah dengan taman yang luas dan memiliki beberapa mobil mewah.

Negeri di atas awan


Negeri di atas awan


Mimpi masa kecil tertanam di bawah sadar dan mempengaruhi pola pikir setelah dewasa. Pola pikir mempengaruhi kekuatan jiwa menghadapi hidup, saat mimpi tak pernah menjadi nyata, karena ternyata kita hidup bukan di negeri dongeng. Ketidaksiapan secara psikologis menghadapi hidup dalam kenyataan yang sebenarnya, membuat hidup terasa sangat berat. Kenyataan yang bertolak belakang dengan mimpi, menimbulkan guncangan jiwa. Seberapa kuat kita menghadapi guncangan itu?
Aku bersyukur memiliki Aba dan Ibu yang mendidikku dengan tegas dan sabar. Mereka menjauhkanku dari beragam dongeng negeri antah berantah. Mereka mendidikku untuk memilih bacaan yang berkualitas. Menghindarkan diriku dari menonton dongeng. Mempersiapkan diriku menghadapi beragam tantangan hidup.
Menatap wajah temanku, aku mengulangi pertanyaan yang sama dengan beberapa tahun yang lalu: Kapan kamu bersiap menghadapi risiko pilihan? Berhentilah bermimpi di bawah sadarmu. Hidup ini sebuah pilihan. Bila kamu tidak berani memilih karena takut terhadap risiko pilihan, maka pilihanmu untuk tidak memilih pilihan lain juga merupakan pilihan yang memiliki risiko. Pilihanmu untuk tetap menderita juga memiliki risiko, yaitu merasa tidak bahagia. Bila kamu memilih kondisimu saat ini, maka berhentilah bermimpi hidup sebagai putri di negeri dongeng. Nikmatilah penderitaanmu. Berbahagialah bersama semua yang dianggap sebagai derita.
Hidup tergantung bagaimana kita menilainya, bukan tergantung penilaian orang lain. Perasaan terhadap sesuatu tergantung pilihan kita. Bila kondisi yang dinilai orang sebagai penderitaan, namun kita menikmatinya sebagai sebuah kebahagiaan, maka tentu saja tidak akan menimbulkan penderitaan buat diri kita. Jadi, berhentilah bermimpi di negeri dongeng.
Kenapa kamu tidak menciptakan mimpi yang lebih baik? Bermimpi menghasilkan sebuah karya besar dengan semua keadaan yang kamu miliki dan anggap sebagai keterbatasan. Bermimpilah sebagai subjek, bukan sebagai objek.
Kutunggu cerita mimpimu yang baru. J