sambutan

selamat datang sahabat.....

Senin, 31 Desember 2012

Persiapan Laporan Akuntansi Badan Layanan Umum Daerah RSUD Bangkinang


Perkembangan ekonomi dan dunia usaha telah menimbulkan persaingan yang makin tajam, demikian halnya dengan industri pelayanan kesehatan sebagai dampak kemajuan teknologi bidang kesehatan menuntut pembiayaan dan investasi yang sangat mahal, sementara itu kemampuan pemerintah dalam membiayai pelayanan kesehatan masyarakat semakin terbatas. Oleh karena itu perlu memberikan otonomi dengan ruang gerak yang lebih leluasa bagi rumah sakit dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya, sekaligus diharapkan BLU rumah sakit dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.

Dalam rangka upaya tersebut perlu dilakukan penataan kembali secara administratif maupun dalam pengelolaan keuangan, agar kekayaan negara yang tertanam di rumah sakit dapat dipergunakan secara lebih optimal. Sebagai salah satu upaya agar rumah sakit dapat beroperasi dengan lebih efektif dan efisien dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, maka perlu diberikan status BLU rumah sakit yang berorientasi kepada usaha pelayanan kepada masyarakat yaitu dalam bentuk Badan Layanan Umum (BLU). Diharapkan dengan status tersebut pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih baik dan mutu pelayanan kesehatan dapat meningkat, di samping itu kemandirian BLU rumah sakit dalam pemupukan dan pengelolaan sumber daya dapat lebih ditingkatkan.
RSUD Bangkinang berstatus sebagai Badan Layanan Umum Daerah dengan Surat Keputusan Bupati Kampar nomor 060/ORG/303/2011 tentang Penetapan RSUD Bangkinang sebagai Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Kampar yang Menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD) Secara Penuh. Surat Keputusan ini berlaku efektif terhitung 1 Januari 2012.
Peningkatan kebutuhan masyarakat atas pelayanan kesehatan yang diberikan BLU rumah sakit, menuntut manajemen BLU rumah sakit untuk bekerja secara profesional. Selain itu, walaupun sumber daya yang tersedia sangat terbatas BLU rumah sakit tetap diharuskan untuk dapat bekerja secara lebih efektif dan efisien.
Sebagai ciri khusus dari usaha jasa pelayanan kesehatan di BLU rumah sakit adalah sulitnya meramalkan kebutuhan pelayanan, baik jenis, jumlah maupun mutu pelayanan yang diperlukan masyarakat. Sementara itu, di sisi lain BLU rumah sakit dituntut untuk selalu siap dalam memberikan pelayanan. Oleh karena itu, penyediaan sarana dan prasarana, tenaga serta dana yang dibutuhkan harus selalu siap dalam rangka mendukung pelayanan.
Di sisi lain dalam pengelolaan sumber daya, BLU rumah sakit juga dituntut untuk dapat menyajikan data dan informasi yang akurat, tersaji secara tepat waktu bagi kepentingan pihak-pihak yang memerlukan. Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pengelolaan sumber daya di bidang keuangan, meliputi transaksi keuangan yang mencakup sumber daya, pendapatan dan beban, maka diperlukan sarana dalam bentuk laporan keuangan.
Laporan Keuangan BLU rumah sakit disusun dengan tujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja dan perubahan posisi keuangan. Selain itu laporan keuangan BLU rumah sakit juga dapat dipergunakan sebagai bahan untuk pengambilan keputusan. Suatu laporan keuangan akan bermanfaat apabila informasi yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut dapat dipahami, relevan, andal dan dapat diperbandingkan. Perlu diketahui bahwa laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan BLU rumah sakit, karena secara umum laporan keuangan hanya menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non-keuangan. Walaupun demikian, dalam beberapa hal BLU rumah sakit perlu menyediakan informasi non-keuangan yang mempunyai pengaruh keuangan di masa depan.

Tujuan Laporan Keuangan
a.    Laporan Keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (pengguna laporan keuangan) dalam pengambilan keputusan ekonomi yang rasional, seperti:
1)    Pemberi bantuan (donatur);
2)    Investor;
3)    Kreditur;
4)    Otoritas pengawasan;
5)    Pemerintah; dan
6)    Masyarakat.

b.    Pihak pengguna laporan keuangan BLU rumah sakit memiliki kepentingan bersama dalam rangka menilai:
1)    Jasa yang diberikan oleh BLU rumah sakit dan kemampuan-nya untuk terus memberikan jasa tersebut; dan
2)    Cara manajemen BLU rumah sakit melaksanakan tanggung jawabnya dan aspek lain dari kinerja mereka.

c.    Informasi yang bermanfaat dapat disajikan dalam laporan keuangan antara lain, meliputi informasi mengenai :
1)     Jumlah dan sifat aset, kewajiban, dan ekuitas BLU rumah sakit;
2)    Pengaruh transaksi, peristiwa, dan situasi lainnya yang mengubah nilai dan sifat Ekuitas;
3)    Jenis dan jumlah arus masuk dan arus keluar sumber daya dalam satu periode dan hubungan antara keduanya ;
4)    Cara BLU rumah sakit mendapatkan dan membelanjakan kas, memperoleh pinjaman dan melunasi pinjaman, dan faktor lainnya yang berpengaruh pada likuiditasnya; dan
5)    Usaha jasa pelayanan BLU rumah sakit.

d.    Laporan Keuangan juga merupakan sarana pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.

RSUD Bangkinang mempersiapkan laporan keuangan setelah satu tahun menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD) secara penuh dengan mendatangkan konsultan yang berpengalaman dalam pengelolaan laporan keuangan Badan Layanan Umum yaitu dari RSUD Pasar Rebo, Jakarta, Bapak Jaenuri, SE. RSUD Bangkinang menggunakan konsultan yang sama sejak mempersiapkan RSUD Bangkinang sebagai Badan Layanan Umum. Diharapkan adanya konsistensi bimbingan terhadap tim manajemen RSUD Bangkinang. Bimbingan dilaksanakan pada tanggal 10 – 12 Desember 2012.
Selain mendapatkan bimbingan dari tenaga tekhnis yang berpengalaman, RSUD Bangkinang juga menggandeng BPKP Perwakilan Propinsi Riau untuk memberikan bimbingan pembuatan laporan keuangan. Bimbingan tim BPKP Perwakilan Propinsi Riau dilaksanakan pada tanggal 19, 26 dan 27 Desember 2012.
Penghitungan aset tetap masih menggunakan data penghitungan aset tahun 2011 oleh konsultan Kantor Jasa Penilai Publik Samsul Hadi, Wahyono Adi, Hendra Gunawan & Rekan. Setelah pindah ke rumah sakit di lokasi baru direncanakan penghitungan ulang nilai aset tetap.
Penghitungan aset lancar dilakukan dengan kegiatan stok opname yang dilaksanakan secara serentak di RSUD Bangkinang pada tanggal 30 Desember 2012. Kegiatan stok opname ini merupakan pertama kali dilaksanakan di RSUD Bangkinang. Tim yang terdiri dari direktur, kepala bidang pelayanan, satuan pengawas internal, kepala seksi akuntansi, kepala seksi pelayanan medik dan penunjang medik, kasubbag rumah tangga, kepala instalasi farmasi beserta seluruh staf instalasi farmasi, kepala instalasi rawat jalan, kepala instalasi gizi, kepala ruangan di semua unit beserta staf pendukung di setiap instalasi dan unit serta tim SIM RS. Keseluruhan tim berjumlah 79 orang dan yang hadir 71 orang. Anggota tim yang tidak dapat hadir karena cuti atau kegiatan lain, medelegasikannya kepada petugas piket di ruang tersebut. Secara keseluruhan kegiatan ini terlaksana dengan baik, meskipun terdapat beberapa kendala seperti SIM RS masih membutuhkan perbaikan data sehingga input data memerlukan waktu yang lebih lama. Kegiatan stok opname ini sekaligus untuk meningkatkan fungsi SIM RS yang selama ini belum berfungsi dalam akuntansi.
Aset tidak berwujud adalah aset non-moneter yang dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa, disewakan kepada pihak lainnya, atau untuk tujuan administratif. Aset tidak berwujud harus memiliki karakteristik sebagai berikut :
a)    Dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik;
b)    adanya pengendalian sumber daya; dan
c)    adanya manfaat ekonomis di masa depan.  
Aset tidak berwujud masih belum ada di RSUD Bangkinang karena belum dilaksanakannya kegiatan riset dan kegiatan pengembangan lainnya. Aset lainnya adalah aset BLU selain aset lancar, investasi jangka panjang, dan aset tetap, yang terdiri atas :
1)    Aset kerjasama operasi (KSO);
2)    aset Sewaan;
3)    aset yang tidak digunakan;
4)    beban yang ditangguhkan;
5)    dan sebagainya.

Keseluruhan aset ditampilkan menjadi neraca keuangan yang membandingkan tahun 2012 dan tahun 2011. Persiapan laporan akuntansi dilaksanakan oleh Bapak Gafar, SKM selaku kepala seksi akuntansi RSUD Bangkinang dengan bimbingan dan bantuan Bapak Jaenuri, SE. Diharapkan laporan yang dihasilkan sesuai dengan standar yang ditetapkan pemerintah.

Literatur:
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia  Nomor 1981/MENKES/SK/XII/2010 tentang  Pedoman Akuntansi Badan Layanan Umum (BLU) Rumah Sakit. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar