sambutan

selamat datang sahabat.....

Senin, 31 Desember 2012

Manajemen Resiko Kerja di Ruang Bedah


          Setiap tahun di dunia terjadi 270 juta kecelakaan kerja, 160 juta pekerja menderita penyakit akibat kerja, kematian 2.2 juta dan kerugian finansial sebesar 1.25 triliun USD. Sedangkan di Indonesia menurut data PT. Jamsostek (Persero) dalam periode 2002-2005 terjadi lebih dari 300 ribu kecelakaan kerja, 5000 kematian, 500 cacat tetap dan konpensasi lebih dari Rp. 550 milyar. Kompensasi ini adalah sebagian dari kerugian langsung dan 7.5 juta pekerja sektor formal yang aktif sebagai peserta Jamsostek. Diperkirakan kerugian tidak langsung dari seluruh sektor formal lebih dari Rp. 2 triliun, dimana sebagian besar merupakan kerugian dunia usaha. (DK3N, 2007). (1)

Pelaksanaan Keselamatan dan kesehatan kerja pada setiap perusahaan tidak hanya perusahaan besar namun juga pada industri-industri kecil guna  meningkatkan produktivitas pekerja.
Rumah Sakit adalah salah satu perusahaan yang pekerjaannya mengandung potensi bahaya yang besar, berupa infeksi, kebakaran, pencemaran serta potensi-potensi bahaya lainnya. Dengan besarnya bahaya kecelakaan kerja yang dapat terjadi pada Dokter Bedah di kamar operasi maka di perlukan suatu manajemen risiko untuk dapat meminimalisirkan kejadian kecelakaan kerja.

Definisi Manajemen Risiko
            Manajemen risiko adalah penerapan secara sistematis dari kebijakan manajemen, prosedur dan aktivitas dalam kegiatan identifikasi bahaya, analisa, penilaian, penanganan dan pemantauan serta review risiko.
            The Joint Commission on Accreditation of Healthcare Organizations (JCAHO) memberikan pengertian manajemen risiko sebagai aktivitas klinik dan administratif yang dilakukan oleh rumah sakit (HCO) untuk melakukan identifikasi, evaluasi dan pengurangan risiko terjadinya cedera atau kerugian pada pasien, personil, pengunjung dan rumah sakit itu sendiri. (2)

Definisi Pekerja
            Menurut UU no 13 Tahun 2003, pekerja adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.

Risiko Kerja di ruang bedah sentral
Risiko adalah sesuatu yang lazim di kedokteran, bahkan sebagian risiko tersebut memang harus diterima sebagai risiko yang inheren di dalam misi. Dari segi medis risiko-risiko tersebut adalah (a) risiko yang tingkat probabilitas dan keparahannya minimal sehingga telah dapat diterima, risiko tersebut foreseeable tetapi unavoidable, (b) risiko yang cukup bermakna tetapi harus dihadapi karena merupakan risiko dari tindakan yang merupakan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan pasien, dan (c) risiko yang tidak dapat diprediksikan sebelumnya (unforeseeable) yang dapat menuju ke untoward results. (3)
Ruang Bedah Sentral adalah suatu interaksi kompleks dari perangkat keras (hard ware), perangkat lunak (software), sumber daya manusia (brainware) dan lingkungan (environment). Pasien pun tidak bisa dikatakan hanya sebagai obyek pembedahan oleh karena dia juga berperan dan berkontribusi dalam menentukan keberhasilan tindakan pembedahan. Kesalahan dapat muncul dari setiap faktor, namun pada umumnya faktor manusia merupakan pembuat kesalahan yang terbanyak, meskipun latar belakang sebenarnya adalah manajemen yang tidak adekuat.
            Ruang operasi harus dibangun sesuai dengan persyaratan administratif dan teknis. Setiap komponen dari bangunan tersebut dapat saja memiliki risiko yang potensial, seperti bentuk atap atau plafon, bahan dinding dan lantai, sistem aliran dan pendinginan udara, sistem pembuangan, dan tata letak peralatan di dalamnya. Demikian pula sistem gas sentral, sterilisator, serta perlistrikan dan gen-set yang merupakan pendukung Ruang Bedah Sentral dapat berpotensi menimbulkan risiko.
            Berbagai prosedur dan standar yang merupakan pedoman bagi para profesional yang terlibat di dalamnya harus cukup lengkap dan selalu disesuaikan dengan situasi-kondisi terkini, sehingga tidak ada aktivitas yang tidak memiliki prosedur dan atau standarnya serta tidak ada prosedur yang sudah ketinggalan jaman. Perangkat lunak ini juga berkaitan dengan tersedianya sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan komunikasi yang layak (reasonable competence and communication) yang siap melakukan pengelolaan pasien dengan adekuat (reasonable care).
            Kegagalan dalam memenuhi hal-hal di atas dapat merupakan risiko terjadinya suatu kecelakaan ataupun kerugian. Memang harus diakui bahwa risiko tersebut tidak selalu terjadi dan tidak selalu berbahaya, tergantung kepada tingkat probabilitas dan keparahannya. James Reason dalam teorinya tentang kecelakaan menyatakan bahwa kecelakaan terjadi oleh karena adanya beberapa latent failure yang berurutan di tingkat manajemen yang kemudian dicetuskan oleh adanya unsafe act oleh faktor manusia. Satu latent failure saja atau unsafe act saja berdiri sendiri belum tentu dapat menghasilkan suatu kecelakaan.
            Penilaian diri dapat dilakukan terhadap layanan utama dalam Ruang Bedah Sentral, yaitu dari segi kesiapan ruang bedah sentral, layanan anestesia, layanan bedah dan layanan obstetri-ginekologi.
            Kesiapan ruang operasi dapat dinilai dari berbagai unsur sebagaimana telah diuraikan di atas, sesuai dengan kebutuhan operasi yang akan dilakukan. Pengelola ruang bedah sentral harus memastikan bahwa bangunan, peralatan bedah dan anestesi, serta peralatan pendukungnya berada dalam keadaan siap pakai dan berfungsi dengan baik. Selain itu harus dipastikan bahwa upaya pencegahan infeksi nosokomial telah dilakukan dengan layak. Berita acara tentang sterilisasi peralatan bedah, penyiapan gas sentral, pemeliharaan alat, dan upaya pencegahan infeksi nosokomial harus berada dalam posisi yang dapat diakses oleh para personil kamar bedah.
            Dari segi layanan anestesi dapat kita ajukan pertanyaan-pertanyaan seperti: apakah dokter spesialis anestesi selalu hadir dalam setiap operasi, apakah perawat anestesi berperan sebagai asisten saja ataukah justru berperan sebagai pelaksana utama, apakah perawat anestesi terlatih dengan penanganan kegawat-daruratan medis, apakah seluruh staf anestesia terlatih untuk menggunakan peralatan yang digunakan, apakah terdapat pelatihan untuk itu, apakah mereka terlatih untuk menghadapi keadaan atau situasi yang tidak lazim (unusual situation), apakah terdapat koordinasi antara dokter operator dengan dokter anestesi perihal metode anestesi yang akan digunakan, apakah anestesia didukung oleh peralatan yang diperlukan seperti pulse oximetry dan tidal CO2 atau capnogram , apakah peralatan monitoring memadai, apakah di dalam rekam medis terdapat check-list peralatan, apakah pengelola anestesi memperoleh salinan atau tembusan tentang pemeliharaan peralatan anestesi dan penyiapan gas anestesi, apakah tersedia dan dipatuhi standar dan prosedur di bidang anestesia, apakah dilakukan pre-operative visit dan perencanaan anestesia, apakah dilakukan penjelasan tentang anestesia kepada pasien atau keluarganya, dan masih banyak lagi pertanyaan lain.
            Dari segi pelayanan bedah dapat diajukan pertanyaan-pertanyaan: apakah kewenangan melakukan tindakan operatif spesifik sudah diatur berdasarkan kompetensi masing-masing staf dan terdokumentasi, apakah operator memenuhi aturan tersebut, apakah perawat bedah telah memperoleh pelatihan khusus sesuai dengan tugasnya, apakah prosedur menghitung pra dan post operasi diberlakukan bagi peralatan bedah, jarum dan sponges, apakah perawat bedah memiliki kewenangan untuk menghentikan operator apabila terdapat ketidak-cocokan perhitungan, apakah pemeriksaan pra-operasi tercatat dalam rekam medis, apakah terdapat mekanisme untuk mencegah operasi apabila tidak terdapat catatan pra-operasi dalam rekam medis, apakah terdapat prosedur untuk memastikan identitas pasien, apakah terdapat prosedur keselamatan pada penggunaan sinar laser, dan lain-lain.(4)

Identifikasi Bahaya 5
Ada beberapa sumber yang dapat menimbulkan bahaya/ cedera pada ruang bedah. Setiap komponen dari bangunan tersebut dapat saja memiliki risiko yang potensial, seperti bentuk atap atau plafon, bahan dinding dan lantai, sistem aliran dan pendinginan udara, sistem pembuangan, dan tata letak peralatan di dalamnya. Demikian pula sistem gas sentral, sterilisasi, serta perlistrikan dapat berpotensi menimbulkan risiko. Selain itu resiko kontak dengan benda tajam yang digunakan, pasien dan zat-zat kimia yang digunakan juga dapat menimbulkan resiko sebagaimana terlihat pada tabel 1.

Analisa Risiko 5
            Analisa risiko yang dilakukan adalah menggunakan semikuantitatif sebagaimana terlihat pada tabel 2 dan tabel 3.



  
Evaluasi Risiko
            Dari analisa risiko yang telah dilakukan yang menjadi prioritas risiko adalah terjadinya Musculosceletal disorders. Oleh karena itu perlu dilakukan pengendalian terhadap risiko tersebut.

Pengendalian Risiko
            Hal yang dapat dilakukan untuk mengendalikan risiko terjadinya Musculosceletal disorders pada dokter  bedah di ruang operasi adalah dengan melakukan perubahan posisi tubuh secara teratur setiap 2 jam. Selama melakukan tindakan operasi, dokter bedah dalam posisi berdiri. Diperlukan bantuan kursi dengan ukuran tinggi disesuaikan kebutuhan yang bersangkutan untuk proses relaksasi otot selama tetap bekerja.  Untuk hasil jangka panjang perlu dilakukan training bagaimana ergonomi yang baik untuk menghindari dari risiko terjadinya Musculosceletal disorders.
             

DAFTAR PUSTAKA

(1)   Buletin Integrasi Disnakertransduk Jawa Tengah, Edisi Bulan Januari 2008
(2)   Balsamo RR and Brown MD. Risk Management. In: Sanbar SS, Gibofsky A, Firestone MH, LeBlang TR. (eds) Legal Medicine. Fourth ed, St Louis (Mosby), 1998.
(3)   World Medical Association (1992): an injury occurring in the course of medical treatment which could not be foreseen and was not the result of any lack of skill or knowledge on the part of the treating physician is an untoward result, for which the physician should not bear any liability.
(4)   Budi Sampurna, Manajemen Risiko Pada Ruang Bedah Sentral, Departemen IKF FKUI, Jakarta,  2007
(5)   Tresnaningsih, Erna, Materi Kuliah K3RS di Stikes Hang Tuah, Pekanbaru, 2011