sambutan

selamat datang sahabat.....

Rabu, 03 Oktober 2012

Wisata Kesehatan


Belakangan ini semakin banyak orang Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri. Kecendrungan masyarakat berobat ke luar negeri bakal terus meningkat di tahun-tahun mendatang. Terlebih lagi jumlah pasien kaya Indonesia kian meningkat. Menurut Bank Dunia, dalam kurun waktu 2003-2010 kelas menengah Indonesia tumbuh 56,3%.

Menurut National Health Care Group International Business Dev Unit (NHG-IBDU) Singapura, tercatat 50% pasien international yang berobat ke Singapura adalah warga Indonesia. Tercatat juga rata-rata jumlah pasien dari Indonesia berobat ke Malaysia adalah 12.000 orang/tahun. 1
Kunjungan pasien internasional berobat ke Singapura berjumlah 300.000 orang dalam satu tahun. Enam puluh persen dari dua perlimanya merupakan pasien Indonesia. Setiap tahun sekitar 300.000 pasien asing berobat ke Singapura. Indonesia termasuk the big three jaringan rumah sakit milik pemerintah Singapura diantaranya RS Alexandra, RS National University, dan RS Tan Tock Seng. Secara keseluruhan, pasien dari luar Singapura yang dirawat di RS Tan Tock Seng pada tahun 2005 sebanyak 49.000 orang. Dari jumlah itu, 44% atau sekitar 11.000 orang dari Indonesia, 50% diantaranya berasal dari Jakarta. 2
Data lainnya menyebutkan jumlah pasien Indonesia  yang berobat di RS Lam Wah Ee Malaysia mencapai 12.000 pertahun atau sekitar 32 orang perhari. Di RS Adventist Malaysia jumlah pasien Indonesia yang tersaring mencapai 14.000 pertahun atau sekitar 38 orang pasien perhari.
Provinsi Riau, sebagai provinsi yang berdekatan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, jumlah kunjungan pasien dari Riau yang berobat ke negara Malaysia menurut Tempo interaktif pada bulan Desember tahun 2006 tercatat sekitar 60.000 pasien dan menghabiskan uang sebanyak 1,5 trilyun rupiah.3
Orang Indonesia lebih memilih berobat keluar negeri lantaran kurangnya sarana medik, rendahnya tingkat kepercayaan pasien, dan  perhatian dokter. Untuk masyarakat yang tinggal di Sumatera, termasuk Riau, berobat ke Malaysia atau Singapura karena jarak yang lebih dekat, biaya yang murah, pelayanan yang lebih baik, tekhnologi, mudahnya akses tanpa proses administratif visa, dan alasan berwisata sambil berobat.
Medical tourism atau wisata kesehatan, menjadi paket wisata yang banyak diambil wisatawan asal Indonesia. Wisata kesehatan telah lama diselenggarakan oleh negara-negara seperti Jerman, Swis, Inggris, AS, Australia, China, Singapura dan Malaysia. Wisata kesehatan menggabungkan pemeriksaan kesehatan atau berobat di rumah sakit dengan pelesir. Adapun perjalanan dengan motivasi kesehatan pada hakikatnya dilakukan berkaitan dengan kesehatan, seperti pemeriksaan kesehatan (medical check up), pemeliharaan (health care), pengobatan (treatment), pemulihan (recovery) dan sebagainya. Wisata kesehatan di Indonesia telah dimulai dengan menjadikan RS Hasan Sadikin (Bandung), RS Santosa (Bandung), RS Cipto Mangunkusumo (Jakarta) dan RS Siloam (Jakarta) sebagai pilot poject untuk wisata kesehatan.4
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, wisata adalah bepergian bersama-sama (untuk memperluas pengetahuan, bersenang-senang, dsb) dan bertamasya.Wisata kesehatan adalah gerak atau kegiatan wisata yg dirangsang oleh adanya objek atau fasilitas yg diperlukan untuk mengembalikan kesehatan di daerah tujuan wisata, misalnya tempat sejuk yang lengkap dengan tempat peristirahatan dan terdapat sumber air panas.
Dalam rangka pemanfaatan potensi pariwisata untuk peningkatan pemasaran dan daya saing pelayanan kesehatan di tingkat nasional, regional dan internasional diperlukan langkah-langkah penanganan yang menyeluruh dan terpadu di bidang pariwisata dan kesehatan serta untuk mensinergikan potensi pariwisata dan pelayanan kesehatan nasional dibutuhkan dukungan kebijakan yang terpadu dari berbagai bidang pemerintahan maka Menteri Kesehatan mengeluarkan  Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 1432/MENKES/SK/VII/2011 tentang Kelompok Kerja Health Tourism Indonesia.6  

Kelompok Kerja Health Tourism Indonesia bertugas:
1.   melakukan pengkajian dan memberi pertimbangan serta mengusulkan kebijakan strategis di bidang Health Tourism kepada Menteri Kesehatan;
2.      menyusun kebijakan teknis, norma, standar dan pedoman di bidang Health Tourism;
3.      melakukan konsultasi dengan lembaga pemerintah dan non pemerintah serta wakil kelompok masyarakat dalam rangka keterpaduan kebijakan dan pengembangan di bidang Health Tourism di Indonesia; dan
4.      melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kebijakan, strategi, dan penyelenggaraan Health Tourism Indonesia.

Indonesia menargetkan menjadi bagian wisata kesehatan Asia sebelum tahun 2015, dengan cara memperbanyak Rumah Sakit (RS) berakreditasi internasional. Selama ini kalau menyangkut health tourism nama Indonesia belum pernah disebut, selalu yang dijadikan referensi Singapura, Malaysia, Thailand atau India. Sebelum 2015 nama diharapkan Indonesia bisa diperhitungkan di antara negara-negara itu.
Saat ini ada sepuluh Rumah Sakit di Indonesia yang tengah mengupayakan akreditasi World Class Hospital dari Joint Commission International (JCI). Ke sepuluh rumah sakit tersebut adalah RS Cipto Mangunkusumo, RS Jantung Harapan Kita, RS Kanker Dharmais, RSPAD Gatot Subroto, RSUP Fatmawati di Jakarta, RS Hasan Sadikin Bandung, RSUP Adam Malik Medan, RSUP Sardjito Yogyakarta, RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar, dan RSUP Sanglah Denpasar Bali.
Tingginya jumlah masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri sebagian besar dikarenakan pelayanan RS Indonesia yang masih jauh dari cukup. Masyarakat Indonesia ke luar negeri bukan karena kualitas kita buruk, tapi karena pelayanan, keramahan, dan manajemen rumah sakit yang tidak baik. Untuk itu Kemenkes mendorong agar semua rumah sakit di Indonesia berorientasi pada kepuasan pelanggan. Ada tiga paramenter penting, yaitu:
1.      pelayanan harus fokus pada customer care;
2.      standar manajemen RS harus baik; dan
3.      standar keselamatan pasien diutamakan.

Rumah sakit berakreditasi internasional tidak berarti biaya berobat akan melambung tinggi. Jika peningkatan mutu telah dilaksanakan dengan baik, akan terjadi banyak sekali efisiensi biaya yang bisa menekan pengeluaran, kecuali biaya investasi alat-alat canggih yang mahal. Sejauh ini JCI mengapresiasi usaha RS di Indonesia untuk mendapatkan akreditasi. Hanya saja, proses akreditasi ini memang mahal dan memakan waktu lama. Akreditasi untuk RSCM diharapkan akan tuntas akhir 2012 dan segera disusul rumah sakit yang lainnya. Upaya menjadikan Indonesia sebagai tujuan health tourism akan didahului di RSUP Sanglah  yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata berobat karena terletak di Pulau Bali yang sudah sangat terkenal dan potensial menjadi tujuan pariwisata. Saat ini di Indonesia baru ada tiga RS yang sudah mendapat akreditasi internasional dari JCI yaitu, RS Siloam Karawaci, RS Eka Hospital Jakarta, dan RS Santosa Bandung. Ketiganya adalah RS swasta.7

DAFTAR PUSTAKA

1. Warta Yanmed XXI, www.scribd.com/doc/50055935/Warta-Yanmed-XXI, diunduh tanggal 29 desember 2011 jam  21.30
2.      isjd.pdii.lipi.go.id diunduh tanggal 29 desember 2011 jam  21.30
3.    m.infoanda.com/link.php?lh=XAALAwVVU1Jd, Tempo interaktif, diunduh tanggal 29 desember 2011 jam 22.11
4.  http://www.aids-ina.org, RSHS sebagai Pilot Project Wisata Kesehatan, diunduh tanggal 30 desember 2011 jam 21.00
5.     Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta, 2008.
6. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 1432/MENKES/SK/VII/2011 tentang Kelompok Kerja Health Tourism Indonesia.
7.  http://www.beritasatu.com, RS Indonesia Jadi Wisata Kesehatan Asia Sebelum 2015, diunduh tanggal 6 Januari 2012 jam 09.00