sambutan

selamat datang sahabat.....

Senin, 08 Oktober 2012

Stres, Sinkope dan Gangguan Psikosomatis


Sore yang cerah saat telepon selulerku berdering seusai aku mengikuti kegiatan Sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi Tuberkulosis di Pekanbaru. Rupanya keponakanku dirawat lagi di rumah sakit.
Ini bukan kali pertama dia dirawat. Dia sudah empat kali dirawat di Intensive Care Unit (ICU). Pekan lalu sepupuku sibuk ingin membawanya ke RS Harapan Kita, karena katanya sakit jantung. Setiap dia dirawat aku gak berkesempatan mengunjunginya di rumah sakit, sehingga aku gak bisa bertanya pada dokter yang merawatnya seberapa jauh kelainan jantungnya sehingga harus ditangani di RS Harapan Kita. Kali ini aku berkesempatan mengunjunginya di rumah sakit saat dia dirawat.

Gadis cantik ini kelihatan sehat saat aku menjenguknya di rumah sakit. Ibunya bingung dengan penyakit putrinya. Dulu ada kelainan jantung, saat ini jantungnya baik-baik saja.
“Dulu dokter bilang apa tentang penyakit jantungnya?”, tanyaku pada sepupuku.
“Bahasa sederhananya jantungnya tidak teratur, ada gangguan listrik jantung.” Jawab sepupuku.
“Aritmia,” kataku yang langsung disambut ponakanku: “Iya aritmia. Kemarin mengingat-ingat arit apa gitu... Aritmatika, bukan… Hehehe… Iya aritmia kata dokternya.”
Aku tersenyum menatap ponakanku. “Apa yang bikin stres? Mikirkan UAN ya?”
“Gak ada stres. Gak mikirin UAN juga.” Katanya tersenyum.
“Atau memikirkan kuliah?” kejarku. Apalagi yang difikirkan anak kelas tiga SMU kalo bukan UAN atau ujian masuk perguruan tinggi. Keponakanku tersenyum.

“Oke sekarang begini. Semua masalah cuma diri kita yang bisa mengatasinya, bukan orang lain. Biasanya orang memang tidak mengakui bahwa dia stres. Adek stres karena tak lama lagi menghadapi ujian mau masuk perguruan tinggi. Semua masalah mesti dipilah-pilah. Tuliskan semua hal yang Adek fikirkan, tanpa terkecuali. Setelah semua hal yang difikirkan dituliskan, maka nilai skala prioritas masalah tersebut. Nilai masalah yang paling penting dan paling mungkin diselesaikan dalam waktu dekat. Semakin jauh waktu penyelesaian yang ditargetkan maka semakin turun skala prioritasnya. Contoh: target Adek lulus di Fakultas Kedokteran Unpad. Untuk mencapainya tentu harus nilai yang bagus. Bila Adek hanya memikirkan harus lulus FK Unpad tapi mengabaikan belajar yang benar, maka gak mungkin Adek lulus. Jadi yang mesti difikirkan saat sekarang adalah bagaimana menguasai semua materi pelajaran dan mengaplikasikannya dalam pembahasan soal. Sekalipun kita hafal semua rumus-rumus sepenuh buku ajaran, namun kita tidak bisa mengaplikasikannya dalam soal maka sia-sia semua ingatan tentang rumus tersebut. Buat target: pekan ini misalnya menguasai buku matematika bab 1. Semua kendala pembahasan soal yang sulit didiskusikan dengan guru. Pekan berikutnya ada target lagi yang mesti dicapai, begitu seterusnya. Target lulus perguruan tinggi idaman akan tercapai dengan sendirinya. Jadi jangan fikirkan akhirnya tapi berfikirlah menjalani proses yang terbaik. Contohnya lagi orang yang mau kaya, tapi hanya memikirkan dia harus kaya. Dia tak menjalani proses untuk kaya. Mana mungkin dia akan kaya. Untuk kaya dia harus rajin berusaha. Menjalani bisnis dengan benar, disertai berhemat dan fokus pada bisnisnya. Maka kaya itu menjadi target yang mungkin tercapai. Jangan membuat target yang tidak mungkin dicapai. Memikirkan target yang tidak mungkin dicapai hanya membuang-buang waktu dan membuat stres.” Jelasku panjang lebar. Keponakanku tersenyum. “Benar semua yang Ummi bilang?” tanyaku. Dia tersenyum mengiyakan. 

“Jadi gak perlu ke RS Harapan Kita kan Mi,” katanya tersenyum.
“Iya, gak perlu.” Sahutku tersenyum.

“Tuliskan semua yang Adek rasakan. Kita harus bisa mendefinisikan perasaan kita. Perasaan marah, benci, sayang dan berbagai jenis perasaan lain yang kita rasakan. Bila Adek marah pada Ibu, maka tuliskan: Adek marah pada ibu. Kemudian telusuri kenapa Adek marah pada Ibu,  misalnya Adek marah karena dimarahi Ibu. Setelah tau apa yang Adek rasakan, harus dicari tau kenapa Ibu marah pada Adek, misalnya karena terlambat bangun. Nah kan jelas masalahnya, sehingga kita menjadi tahu apa yang harus dilakukan agar tidak dimarahi Ibu lagi yaitu bangun sesuai waktunya. Setiap perasaan kita harus dijelaskan dan kita harus memutuskan apa yang harus dilakukan di masa depan agar kejadian tersebut tidak berulang. Bila kita tidak bisa lagi menjelaskan perasaan kita maka kita menjadi semakin dekat ke rumah sakit jiwa.” Adek ketawa mendengar penjelasanku.

“Trus masih perlu konsul untuk kelainan lambungnya?” Tanya sepupuku.
“Penyakit yang disebabkan stres akan mempengaruhi semua tubuh, termasuk lambung. Nanti kalo Adek udah tenang maka semua penyakitnya akan sembuh,” ujarku tersenyum karena kelainan lambungnya masih ringan. Aku berpamitan karena aku punya janji lain yang mesti kupenuhi.

 “Mungkin yang disampaikan tadi tu benar, Adek stres karena mau masuk perguruan tinggi. Dia ingin kuliah di Fakultas Kedokteran Unpad tapi ibunya tidak mengizinkan. Adek pingsan saat ujian. Beberapa kali masuk rumah sakit selalu dia pingsan saat belajar di sekolah,” tutur kakakku saat kami berjalan meninggalkan rumah sakit.
Aku ingat percakapan saat lebaran lalu. Sepupuku tidak mengizinkan putrinya kuliah di kota lain, sementara putrinya sangat ingin kuliah di Unpad. Usai lebaran ini Adek bolak-balik masuk rumah sakit. Hal yang selalu dilupakan para orang tua adalah anak berhak memilih hidupnya. Biarkan anak mencapai cita-citanya, bukan cita-cita orang tua. Bila orang tua ingin yang terbaik bagi anaknya, bukan cita-cita orang tua yang dipaksakan untuk dicapai anak, tapi mendorong anak untuk mencapai cita-citanyalah yang harus dilakukan orang tua. Pada kasus ini, ibunyalah yang membuat putrinya berada dalam kondisi stres. Tanpa disadari, si ibu telah menyulitkan dirinya sendiri karena putrinya bolak-balik dilarikan ke rumah sakit pada jam sekolah. Target yang berbeda antara ibu dan anak dapat menyebabkan keduanya tidak tercapai. Jadi perlu ditentukan target bersama yang ingin dicapai agar lebih mudah tercapai.

Pingsan mendadak yang sering dialami Adek dikenal dalam dunia kedokteran dengan istilah sinkope. Sinkope merupakan satu peristiwa hilangnya sejenak kesadaran orang, biasanya tidak berlangsung melebihi 15 detik, disebabkan oleh menurunnya perfusi, kebanyakan dalam arteria karotid dan kadang di sistem vertebral-basiler. Sinkope memiliki banyak sebab dan hilangnya sejenak kesadaran mempunyai banyak sebab yang nonvaskuler. Penyebab yang paling sering adalah disfungsi vasovagal, hipotensi ortostatik, aritmia jantung dan jarang adalah insufisiensi arteria vertebral-basiler. Sinkope menurut riwayat gejalanya harus memasukkan histeria dan ansietas sebagai salah satu sebabnya. 

Secara keseluruhan kondisi yang dialami Adek dikenal dalam dunia kedokteran sebagai psikosomatis. Psikosomatis berasal dari dua kata yaitu psiko yang artinya psikis, dan somatis yang artinya tubuh. Istilah gangguan psikosomatik menunjukkan kondisi fisik yang disebabkan atau diperberat oleh faktor psikologis. Meskipun umumnya gangguan fisik dipengaruhi oleh stres, konflik dan kecemasan umum, sebagian gangguan lebih terkena daripada lainnya.

Untuk memenuhi kriteria diagnostik yang disebut faktor psikologis mempengaruhi keadaan fisik, dua kriteria di bawah ini harus dipenuhi:
1.      Stimulus lingkungan yang secara psikologi bermakna secara temporal terkait dengan inisiasi atau eksaserbasi keadaan atau gangguan fisik spesifik itu.
2.   Kondisi fisik itu harus menunjukkan patologi organik jelas, misal artritis reumatoid, atau proses patofisiologik jelas, misal sakit kepala migren.

Sejumlah gangguan fisik yang dapat disebabkan oleh gangguan psikis:
1.      Angina, aritmia, spasme koroner
Orang tipe A bersifat agresif, iritabel, mudah frustasi dan rentan penyakit jantung koroner. Aritmia sering terjadi pada status ansietas. Kematian mendadak dapat terjadi akibat aritmia bilik pada pasien tertentu yang mengalami syok atau bencana psikologis masif. Perubahan pola hidup: stop merokok, batasi masukan alkohol, turunkan berat badan dan turunkan kolesterol untuk membatasi faktor risiko.
2.      Sinkop, hipotensi
Refleks vaso-vagal dengan cemas akut atau ketakutan menimbulkan hipotensi dan pingsan. Lebih sering pada pasien hiperaktif sistem saraf otonom. Diperhebat oleh anemia dan obat anti depresan (menyebabkan hipotensi sebagai efek samping).
3.      Asma
4.      Penyakit jaringan ikat: SLE, RA
5.      Sakit kepala
6.      Hipertensi
7.      Sindrom hiperventilasi
8.      Penyakit radang usus: penyakit Crohn, sindrom usus iritabel, kolitis ulseratif.
9.      Gangguan metabolik dan gangguan endokrin
10.  Neurodermatitis.
11.  Obesitas
12.  Osteoartritis
13.  Penyakit tukak peptik
14.  Penyakit Raynoud
15.  Urtikaria, angio udem.
           
Penanganan pada gangguan psikosomatik dilakukan dengan pendekatan campuran antara dokter yang menangani kelainan fisik dan psikiater untuk menangani aspek psikiatriknya. Selain itu juga diperlukan psikoterapi suportif dan psikoterapi berorientasi insigh dinamik, gali konflik bawah sadar. Cemas terkait dengan stres kehidupan perlu diperiksa serta dibangun pertahanan yang lebih matur yang baru. Farmakoterapi (obat-obatan) dipakai terbatas agar tidak menimbulkan ketergantungan.   

Literatur pendukung:
1.      Kaplan & Sadock, Psikiatri Klinik, Binarupa Aksara, Jakarta, 1994
2.      Kaplan & Sadock, Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat, Widya Medika, Jakarta, 1998