sambutan

selamat datang sahabat.....

Minggu, 01 Juli 2012

Rumah Sakit


Beberapa pengertian Rumah Sakit yang dikemukakan oleh para ahli sebagaimana dikutip Azwar (2010:88–89) adalah sebagai berikut:

1.    Rumah sakit adalah suatu organisasi yang melalui tenaga medis professional yang terorganisir serta sarana kedokteran yang permanen menyelenggarakan pelayanan kedokteran, asuhan keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien (American Hospital Association, 1974). 
2.    Rumah sakit adalah tempat dimana orang sakit mencari dan menerima pelayanan kedokteran serta tempat dimana pendidikan klinik untuk mahasiswa kedokteran, perawat dan tenaga profesi kesehatan lainnya diselenggarakan (Wolper dan Pena, 1987).
3.      Rumah Sakit adalah pusat dimana pelayanan kesehatan masyarakat, pendidikan serta penelitian kedokteran diselenggarakan (Association of Hospital Care, 1947). 
Menurut Undang-undang Republik Indonesia nomor 44 tahun 2009, Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Pelayanan Kesehatan Paripurna adalah pelayanan kesehatan yang meliputi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah  kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan, baik secara langsung maupun tidak langsung di Rumah Sakit.
Rumah Sakit menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 44 tahun 2009 mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. Untuk menjalankan tugasnya Rumah Sakit mempunyai fungsi:  
1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit;
2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis;
3.  Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan; dan
4.  Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.
Menurut Muninjaya (2011:23–24), sebagai bagian dari sistem pelayanan publik, pelayanan kesehatan harus memenuhi kriteria:
1.      Availability   
Pelayanan kesehatan harus tersedia untuk melayani seluruh masyarakat di suatu wilayah dan dilaksanakan secara komprehensif mulai dari upaya pelayanan yang bersifat preventif, promotif, kuratif, dan rehablitatif.
2.      Appropriateness
Pelayanan kesehatan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat di suatu wilayah. Kebutuhan masyarakat diukur dari pola penyakit yang berkembang di wilayah tersebut. 
3.      Continuity-sustainablility
Pelayanan kesehatan di suatu daerah harus berlangsung untuk jangka waktu lama dan dilaksanakan secara berkesinambungan.
4.      Acceptability
Pelayanan    kesehatan    harus    diterima     oleh     masyarakat     dan
memperhatikan aspek sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat.
5.      Affordable
Biaya/tarif  kesehatan harus terjangkau oleh masyarakat umum.
6.      Efficient
Pelayanan kesehatan harus dikelola (manajemen) secara efisien.
7.      Quality
Pelayanan kesehatan yang diakses masyarakat harus terjaga mutunya.
Massie (1987) sebagaimana dikutip Aditama (2006:154–155) mengemukakan tiga ciri khas rumah sakit yang membedakannya dengan industri lainnya:
1.      Kenyataan bahwa “bahan baku” dari industri rumah sakit adalah manusia. Dalam industri rumah sakit tujuan utamanya adalah melayani kebutuhan manusia, bukan semata-mata menghasilkan produk dengan proses dan biaya seefisien mungkin. Perbedaan ini mempunyai dampak penting dalam manajemen, khususnya menyangkut pertimbangan etika dan nilai kehidupan manusia.
2.     Kenyataan bahwa dalam industri rumah sakit yang disebut sebagai pelanggan tidak selalu
    mereka yang menerima pelayanan. Pasien adalah mereka yang diobati di rumah sakit. Akan tetapi, kadang-kadang bukan mereka sendiri yang menentukan di rumah sakit mana mereka dirawat.
3.    Kenyataan yang menunjukkan pentingnya peran para profesional, termasuk dokter, perawat, ahli farmasi, fisioterapi, radigrafer, ahli gizi dan lain-lain. Para profesional ini banyak sekali jumlahnya di rumah sakit. Proporsi antara tenaga profesional dengan pekerja biasa di rumah sakit, lebih banyak dibandingkan dengan organisasi lainnya. Hal yang perlu mendapat perhatian adalah kenyataan bahwa para profesional cenderung sangat otonom dan berdiri sendiri. Tidak jarang, misi kerjanya tidak sejalan dengan misi kerja manajemen organisasi secara keseluruhan.

Literatur:
Aditama, TY. (2006). Manajemen Administrasi Rumah Sakit. Jakarta: UI Press.
Azwar, Asrul. (2010). Pengantar Administrasi Kesehatan. Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Muninjaya, Gde. (2011). Manajemen Mutu Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit.