sambutan

selamat datang sahabat.....

Jumat, 02 April 2010

Berhenti merokok? Siapa takut…

            Rokok merupakan hal yang sudah menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat kita seperti halnya nasi. Tapi benarkah dia hanya selevel nasi dalam hal kebutuhan? Ternyata tidak, dia lebih parah. Seorang ayah bahkan lebih mendahulukan membeli rokok ketimbang membelikan anaknya nasi. Fenomena inilah yang kita temukan dalam masyarakat miskin yang jumlahnya jutaan di negeri tercinta ini. Dia bisa nyaman merokok saat anaknya kelaparan….

           Rokok tidak hanya menguras keuangan keluarga miskin Indonesia untuk mengkonsumsinya, tapi rokok juga menyebabkan keluarga miskin menjadi lebih menderita karena serangan penyakit yang tidak mampu mereka bayar. Sekalipun terdapat jaminan pemeliharaan kesehatan bagi masyarakat miskin, tapi tidak semua masyarakat miskin memilikinya. Karena ada banyak orang yang berdoa menjadi miskin saat dia sakit, yah dia mendadak miskin saat sakit padahal sebelumnya dia orang yang mampu, begitupun setelah sembuh dia kembali menjadi orang yang mampu. Sehingga sebagian orang yang benar-benar miskin tidak mendapatkan fasilitas tersebut.

           Telah diketahui oleh semua orang bahwa rokok dapat menyebabkan penyakit karena sudah tertera di bungkusnya. Penyakit timbul mulai dari kepala sampai ujung kaki, dari yang ringan sampai mengancam nyawa. Mulai dari sakit batuk-batuk sampai pada stroke atau kanker paru-paru. Tapi kenapa orang tidak mau berhenti merokok?

           Dalam mengambil keputusan dalam hidup ini ada 2 hal yang berperan yaitu pikiran dan perasaan. Pikiran memilih baik atau buruk, bermanfaat atau merusak. Perasaan memilih rasa nyaman atau menderita. Kata orang, laki-laki lebih banyak menggunakan perasaan daripada perempuan, yaitu 9 pikiran dan 1 perasaan, sedangkan perempuan 1 pikiran dengan 9 perasaan. Benarkah? Pikiran jelas mengatakan bahwa merokok itu merusak, tapi perasaan merasa nyaman. Jika seorang laki-laki memutuskan tidak bisa berhenti merokok maka dia harus mengakui bahwa dia dikuasai oleh 9 perasaan dan 1 pikiran. Jadi? Simpulkan sendiri deh…Kalau perempuan perokok bukan berarti dia dikuasai perasaannya karena perasaan perempuan penuh kasih sayang. Apakah dikatakan sayang saat kita menyediakan bibit penyakit untuk keluarga?

           Kehidupan kita seharusnya ditentukan oleh pikiran sadar kita. Seorang laki-laki selalu berpikir bahwa dia kuat dan akan sangat marah apabila ada orang mengatakan bahwa dia lemah. Orang yang kuat adalah orang yang menang berperang melawan diri sendiri. Bila kita merasa kuat, maka kita akan menang dalam perang melawan kecanduan rokok. Tapi bila kita masih terjajah oleh rokok berarti kita penakut. Tidak berani berperang melawan diri sendiri. Padahal kita terlahir untuk menjadi pemenang. Sel sperma yang berhasil membuahi sel telur sehingga menjadi diri kita adalah sang pemenang dan pejuang yang tangguh mengatasi rintangan dan persaingan dengan jutaan sel sperma. Lalu kenapa takut memulai usaha berhenti merokok?

            Berhenti merokok? Siapa takut… Ayo kita mulai berjuang dan menjadi pemenang. Selamat berjuang!

Diposting juga disini